Makalah
Dietrich
bonhoeffer
Makalah
ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah Teologi Kristen Moderen
Dosen
: Drs. M. Nuh Hasan, MA.
Di susun oleh:
M. Rahmat Ramadhan (1113032100036)
Fakultas ushuluddin
Universitas islam negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta
2015
PENDAHULUAN
Kita tahu bahwa dalam agama
Kristen itu segala sesuatu itu ditentukan oleh gereja yang mana hanya gerejalah
yang membuat semua peraturan bagi umat Kristen itu sendiri terlepas dari
peraturan keagamaan atau pun ketentuan social.
Banyak dikalangan umat Kristen
itu sendiri yang mana banyang menentang akan ajaran agama yang mana pada
dasarnya itu bukanlah menentang akan tetapi sebuah perkembangan pemikiran
seseorang tentang konsep konsep ilahi. Kita tahu bahwa setiap gereja akan menentang
siapa saja umatnya yang memiliki sebuah pemikirang baru dan ia juga akan
dinyatakan bukan dari kelompok gereja ini.
Salah satunya ialah Dietrich
Bonhoefer yang mana kita tahu bahwa ia adalah orang yang ke dua yang mengalami
sekularisasi. yang mana ia beranggapan bahwa akal manuisa itu menjadi dewasa,
sehingga mengakibatkan dunia ini menjadi sekuler. Perkembangan dunia hingga
menjadi dunia modern ini bukan berari sebuah penyelewengan manusia yang
meninggalkan Allah atau meninggalkan kekristenan. Yang mana kita tidak bisa
mengajak dunia untuk kembali lagi ke zaman atau abad pertengahan, sejaarah
dunialah yang telah membawa kepada zaman sekarang. Adapun tugas dari Teologi
dan gereja ialah mengubah cara perfikir masing-masing[1].
PEMBAHASAN
A.
Biografi
Dietrich Bonhoefer
Dia lahir di Breslau, Jerman
(kini Wroclaw Polandia) pada tanggal 4 februari 1906 dan wafat 9 april 1945, ia
merupakan anak kembar yang ke enam dari 8 bersaudara. Ayahnya itu merupakan
seorang psikiater dan neorulogi yang sangat terpandang, yang mana ia adalah
seorang pendeta dan seorang theolog Lutheran jerman selain itu juga ia
merupakan seorang anggora dalam pergerakan melawan Nazisme yang terlibat dalam
komplotan pembunuhan hiter yang mana ia tertangkap pada maret tahun 1943[2].
Karena sang ayah merupakan
seorang psikiater dan neurologi, enamtaun kemudian ketika ia berusia 12 tahun
ia pun mulai tertarik dengan dunia teolog maka dari itu ia langsung menempuh
pendidikan teolog di tubungen 1923 dan di berlin 1924 yang mana merupakan di
bawah naungan teolog teolog besar seperti Adolf Von Harnack dan Reinhold
Seeberg. Yang mana setelah melakukan pelayanan secara singkat sebagai Vikar di
Barcelona, Spanyol (1928), kemudian pun ia berangkat ke Union Theological
Seminary di New York dan dengan menyelesaikan dengan secara cepat pada tahun
1930. Selain itu juga ia disana itu berjumpa secara langsung dengan seorang
teolog ternama Reinhold Niebuhr. Adapun disertasinya yang mendapat pujian dari
teolog terkemuka ialah Karl Barth yang
menyebut karyanya itu sebagai “theological
miracle” yang berjudul “sanctorum commonio: A Dogmatic
investigation of the sociology of the Church”[3].
Sekembalinya Bonheaffer ke negara
asalnya yaitu pada tahun 1931, yang mana ia langsung mengajar dan melanjutkan
studi di fakultasteologi di berlin. Maka dari sini lah ia mulai banyak
menghasilkan karya tulis teologinya. Adapun suasana di jerman ketika itu adalah
naiknya Adolf Hitler sebagai diktator
dengan partai Nazinya yang sebagai propaganda pendirian nasionalistiknya. Akan
tetapi celakanya gereja iniji dan reformed yang mana pada waktu itu merupakan
gereja yang sangat terkemuka di jerman pada tahun 1933 malah mendukung
peerintahan Hitler yang anti-yahudi.
Yang sebenarnya ia juga merupakan
pengikut gereja injili maka dari itu ia tidak menyetujui pendirian gerejanya
sendiri, maka sikap protes terhadap gereja nnya ia tidak mau menerima
pelayanaan jemaat nya di jerman malah sebaliknya ia melayani jemaat yag ada di
London, Inggris.
Setelah ia kembali lagi ke Jerman
dan kemudian ia mengajar di Finkenwalde, yang merupakan sebuah seminari di
bawah denominasi yang disebut sebagai Confessing Chruch. yang seminari ini
tidak bertahan lama hanya bertahan sampai sampe 1937, yang mana ketika rezim
Hitler menyatakan bahwa tempat pelatihan tersebut ilegal dan dilarang untuk
diteruskan. Bahkan yang lebih parahnya lagi ada beberapa mahasisawa teolog yang
menjadi muridnya Bonheaffer di tangkap, sedangkan ia juga dilarang untuk
berbicara di depan publik dan dilarang untuk menulis. Sejak itu, tepatnya pada
tahun 1937 ia terlibat dalam suatu rencana untuk menggulingkan diktatror
hitler, terutapa setelah ia melihat mandulnya fungsi gereja di sana, serta
semakin banyaknya sinagoge dan tempat usaha orang yahudi yang dibakar atau
dihancurkan. Maka baginya hal itu telah membuktikan bahwa ini merupakan
kekerasan yang berasal dari rezim hitler.
Pada tahun 1941 semua buku
karangan Bonheaffer bredel atau di hentikan dan pada tanggal 5 april 1943 yang
mana ia ditahan dipenjarakan. Sekitar bulan oktober tahun 1944 ia dipindahkan
ke penjara Gestapo di Berlin dan sekitar bulan februari 1945 ia dibawa ke kamp
konsentrasi di Buchenwad dan kemudian dibawa ke Flossenbrug, maka akhirnya ia
dengan tuduhan untuk mencoba membunuh Hitler, maka ia pun dibunuh dengan cara
digantung pada tanggal 9 April 1945, pada usia yang masih mudia yaitu 39 tahun[4].
B.
Pemikiran
Dietrich Bonhoeffer
Kita tahu bahwa orang kedua yang
menangani akan sekularsme ialah Dietrich Bonhoeffer, yang mana ia setelah
kelulusanya itu ia mendapat latihan kerjaan di sebuah jemaat yang berbahasa
jerman di Barcelona. Jalan pemikiran Bonhoeffer itu sendiri sama dengan
Gogarten, bahwa ia beranggapan akal manusia itu telah menjadi dewasa, yang mana
mengakibatkan dunia ini menjadi sekuler. bisa kita sadari bahwa perkembangan
dunialah yang menjadi dunia modern bukan manusia manusia itu sendiri yang
menyeleweng dari ajaran Allah atau kekeristenan.
Bahkan kita tidak mungkin untuk
mengembalikan zaman sekarang kepada zaman abad pertengahan, sejarahlah yang
telah membawa manusia kepada zaman ini. Adapun ini merupakan tugas Teolog dan
gereja itu sendiri untuk mengubah cara pikir individu.
Sekalipun demikian, Bonhoeffer
tetap akan kepada teguh pendiriannya. Yang mana pemikirannya yang lebih radikal
ketimbang dari Gogarten dengan teologi-teologinya yang lain. Yang mana
analisinya itu sekarang terpusat pada religi hingga ia mengeluarkan dalil yang
sangat termashur yaitu “sekarang ini
zaman akhir Religi”[5].
Bahwa ia pun banyak dipengaruhi oleh Karl Barth, walau sekalipun tidak pernah
menjadi muridnya.
Adapun hal yang diambil dari Karl
Barth ialah kritik Karl Barth terhadap religi, yang mana Barth memisahkan
secara radikal reeligi manusia dari penyatuaan atau wahyu Allah. Dari pada itu
bonhoeffer lebih maju lagi, yang dimana ia beranggapan bahwa sekarang ini zaman
religi telah berlalu. Kini bukan zaman menyakinkan orang orang dengan
kata-kata, sekalipun dengan kata yang saleh[6].
Ada pun pandangan Religi menurut
Bonhoeffer yang mana ia beranggapan bahwa, Religi itu suatu bentuk pengungkapan
kekristenan, artinya “agama Kristen diungkapkan dalan bentuk religi”. Padahal
religi itu terikat pada suatu waktu tertentu sehingga bersifat sementara.
Kekristenan itulah suatu pakaian yang hingga kini dipakai oleh penyatuan atau
wahyu Allah, namun kini pakaian ini telah usang. Kenapa demikian? Karena
disepanjang zaman yang lalu religi senantiasa berubah dalam perwujudannya.
Dalam hal ini ada pula kerangka
religi. Yang mana orang berfikir dalam dua ruang, yaitu bahwa allah itu berada
dalam tempat diatas dunia yang kita diami, Allah tuntangan dalam di dunia
bawah. Dari dunia yang di bawah manusia rindu terhadap manusia yang diatas yang
lebih tinggi dan lebih baik. Inilah pikiran yang metafisis, yang mengandaikan
adanya apriori religious yang artinya bahwa manusia dilengkapi dengan bakat
religi yang berakar pada hidup struktur rohani manusia.
PENUTUP
Kini dengan bermacam cara, agama
Kristen sambil ketakutan mencoba memperjuangkan suatu tempat di dalam dunia dan
di depan mata dunia, di mana Allah dan religi dianggapnya masih bertahan. Yang
mana gereja ingin menunjukan pada dunia yang telah merasa dewasa itu bahwa ia
tidak dapat hidup tanpa perwalian Allah, untuk menunjukan hal itu, gereja
membuat pertahanan (atelling) di
tempat tempat yang disebut “persoalan terakhir”dibidang ilmu pengetahuan dan
hidup.
Yang mana artinya banyak
persoalan yang telah dapat dijawab oleh akal manusia, namun harus diakui bahwa
masih ada juga hal-hal yang belum dapat dijawab. Yaitu hal hal yang mengenai
“soal-soal diakhir”dibidang pemikiran dan hidup, umpananya soal dari mana
manusia itu asalnya.
DAFTAR PUSTAKA
Harun Hadiwijono, Theologia
Reformatoris Abad Ke 20, (Jakarta:BPK Gunung Mulia), jilid I.
Daniel L Lukito, seratus
tahun Dietrich bonhoeffer berteologi untuk menemukan orang Kristen sejati,
oktober 2005, jurnal
[1]
Harun Hadiwijono, Theologia Reformatoris
Abad Ke 20, (Jakarta:BPK Gunung Mulia), jilid I, h. 48.
[2]
Daniel L Lukito, seratus tahun Dietrich
bonhoeffer berteologi untuk menemukan orang Kristen sejati, oktober 2005,
jurnal h 164
[3]
Ibid h 165
[4]
Daniel L Lukito, seratus tahun Dietrich
bonhoeffer berteologi untuk menemukan orang Kristen sejati, oktober 2005,
jurnal h 167
[5]
Harun Hadiwijono, Theologia Reformatoris
Abad Ke 20, (Jakarta:BPK Gunung Mulia), jilid I, h 55
[6]
Harun Hadiwijono, Theologia Reformatoris
Abad Ke 20, (Jakarta:BPK Gunung Mulia), jilid I, h 56.