Makalah
AJARAN TENTANG
GEREJA DAN SAKRAMEN
Makalah
ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah Agama Kristen
Dosen
: M Nuh Hasan, M.A.
Di susun oleh:
M. Rahmat. Ramadhan (1113032100036)
Jurusan perbandingan agama
Fakultas ushuluddin
Universitas islam negeri
Syarif Hidayatullah
Jakarta
2015
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
.............................................................................................................................1
BAB I PENDAHULUAN
.........................................................................................................2
Latar Belakang Masalah
.................................................................................................2
BAB II
PEMBAHASAN............................................................................................................3
Pengertian Gereja Sifat
dan Tujuannya.............................................................................3
Gereja sebagai tubuh
Kristus...........................................................................................5
Hubungan Gereja dengan
kerajaan Allah.........................................................................6
Gereja sebagai Doktrin
Penyelamatan..............................................................................8
Pengertian Sakramen
......................................................................................................9
Sakramen dalam Gereja Roma
Khatolik dan Kristen Protestan.......................................11
Jenis-jenis dan Makna
Sakramen...................................................................................15
Sakramen sebagai Dokrtin
Penyelamatan.......................................................................17
Hubungan antara Gereja dan
Sakramen.........................................................................18
BAB III
PENUTUP..................................................................................................................20
Kesimpulan...................................................................................................................20
DAFTAR
PUSTAKA..............................................................................................................21
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Dalam pembahasan kal ini kita akan menbicarakan
tentang kegerejaan dan sakramen agama Kristen. Kita tahu bahwa umat kristiani
itu memiliki tempat peribadatan yaitu Gereja akan tetapi terkadang kita tidak
mengetahui akan pengertian gereja tersebut atau tujuan dan sifat dari gereja
tersebut.
Gereja itu berbeda dengan majid yang mana segala
ketentuan apapun yang bersangkutan dengan aturan aturan itu tidak di tentukan
oleh masjd akan tetapi oleh para ulama
kalau diindonesia MUI. Akan tetapi berbeda dengan gereja yang mana segala
ketentuan itu diatur oleh gereja, gereja memiliki kekuasan atas umatnya. Kita
tidak melihat akan hal itu dalam makalah ini akan tetapi kita akan melihat apa
tujuan dan sifat dari gereja yang mana menjadi pegangan bagi umat Kristiani.
Selain itu juga ada beberapa sakramen sakramen yang sering dilakukan oleh umat Kristiani
diantaranya nyaitu Sakramen Pembaptisan, Sakramen Penguatan, Sakramen Taubat,
Sakramen Ekaristi, Sakramen Pernikahan. Yang mana ini semua adalah sakramen
yang sering umat Kristiani lakuakan. Memang dalam pembahasan ini juga membahas
akan hubungan sakramen dengan penyelamatan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
gereja
Gereja
itu berasal dari bahasa Portugis yaitu Igreja
atau dalam bahasa Yunaninya itu Ekkiesia
[1]yaitu
“dipanggil keluar” atau bisa dikatakan sebagai “kumpulan orang orang yang
keluar dari dunia. Maksud keluar disini ialah memilki arti yang sangat luas.Ada
yang mengartiakan “Umat” atau persekutuan orang orang Kristen.Ada juga yang
mengartikan sebagai “perhimpunan” atau lebih tepatnya perkumpulan ibadah umat
kristiani.Ada juga yang mengarikan sebagai “Mazhab” yaitu Khatolik, Protestan
dll.
Apabila
kita mengacu pada arti yang pertama itu gereja terbentuk 50 hari setelah
kebangkitan Kristus yaitu pada perayaan Pantekosta.Ketika ituRoh Kudus yang
dijanjikan Allah diberikan kepada semua orang yang percaya kepada Yesus
Kristus.
Selain itu juga Gereja memiliki sifat-sifat
yang tentunya mempunyai kaitan dengan makna dan hakikat Gereja itu sendiri.
Syahadat iman Gereja Katolik dirumuskan dalam doa kredo (credere = percaya).
Ada dua rumusan kredo yaitu rumusan pendek dan rumusan panjang.Syahadat rumusan
pendek disebut Syahadat Para Rasul karena menurut tradisi syahadat ini disusun
oleh para rasul.Yang panjang disebut Syahadat Nikea yang disahkan dalam Konsili
Nikea (325) yang menekankan keilahian Yesus.Dikemudian hari lazim disebut
sebagai Syadat Nikea-Konstantinopel karena berhubungan dengan Konsili
Konstantinopel I (381)[2].
Pada Konsili ini ditekankan keilahian Roh
Kudus yang harus disembah dan dimuliakan bersama Bapa dan Putera.Syahadat
inilah yang lebih banyak digunakan dalam liturgi-liturgi Gereja Katolik. Di
dalam rumusan syahadat panjang itu pada bagian akhir dinyatakan keempat sifat
atau ciri Gereja Katolik satu, kudus, katolik dan apostolik[3].
1. Gereja itu “satu”
karena
Roh Kudus yang mempersatukan para anggota jemaat satu sama lain dengan para
kepala atau pimpinan jemaat (uskup) baik partikular maupun universal (Paus)
yang berkedudukan di Vatikan.
Selain itu juga dilihat dari Kesatuan iman
para anggotanya.Kesatuan iman ini bukan kesatuan statis tetapi kesatuan yang
dinamis, artinya iman yang sama namun diungkapkan dan dirumuskan secara
berbeda-beda. Kesatuan di sini bukanlah keseragaman tetapi bisa dipahami
seperti Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu.
Kesatuan
dalam pimpinan yaitu hierarki. Yesus memilih 12 rasul namun Ia juga memilih
Petrus sebagai ketua para rasul. Dalam diri Petrus, Kristus menetapkan asas dan
dasar kesatuan iman yang kemudian diteruskan dalam diri Paus juga masing-masing
uskup sebagai pemimpin Gereja di sebuah wilayah.
Kesatuan
dalam kebaktian dan kehidupan sakramental.Kebaktian dan sakramen-sakramen merupakan
ekspresi simbolis dari kesatuan gereja artinya lewat kesatuan kebaktian,
sakramen-sakramen yang diterima Nampak jelas kesatuan gereja itu sendiri.
2. Gereja itu “kudus”
karena
berkat Roh Kudus yang menjiwai-Nya, Gereja bersatu dengan Tuhan, satu-satunya
yang dari diri-Nya sendiri kudus. Yang mana Kekudusan gereja nampak dalam
beberapa hal antara lain:Sumber gereja itu kudus. Gereja didirikan oleh Kristus
.gereja menerima kekudusan dari Kristus sendiri (Yoh 17: 11), selain itu juga Tujuan
dan arah gereja adalah kudus. Gereja bertujuan untuk kemuliaan Allah dan
penyelamatan manusia.Selai itu jugaJiwa Gereja adalah kudus sebab jiwa gereja
adalah Roh Kudus sendiri.
Unsur-unsur
Ilahi yang otentik/asli yang berada dalam gereja adalah kudus misalnya
ajaran-ajaran atau sakramen-sakramen. Dan Anggotanya adalah kudus karena
ditandai oleh Kristus melalui pembaptisan dan dipersatukan melalui iman,
harapan dan cinta yang kudus. Artinya,
kita semua dipanggil menjuju kekudusan.
3. Gereja itu “katolik”, “menyeluruh”, “am” atau
“umum”
karena
tersebar di seluruh dunia sehingga mencakup semua.Yang Hidup di tengah segala
bangsa dan Ajaran gereja dapat diwartakan untuk segala bangsa dengan
keanekaragamannya.Selain itu juga Gereja terbuka terhadap semua bangsa dari
berbagai daerah, agama, suku dan budaya.Yang mana Iman dan ajaran gereja
bersifat umum artinya dapat diterima dan dihayati oleh siapa saja.
4. Gereja itu “apostolik”
Yang
mana gereja itu dibahawah bimbingan roh kidus selain itu juga warganya
dikatakan “anggota umat Allah” jika bersatu dengan pusat-pusat Gereja yang
mengakui diri sebagai tahta para Rasul (apostoloi)[4].
Selain dari sifat sifatnya ada pula tujuan
dari Gereja itu yaitu ada dua yang pertama itu koinonia atau persekutuan yang
mana gereja itu merupakan persekutuan orang orang yang mempercayai akan yesus
kristus. Selain itu juga merupakan pemersatu diantara umat kristiani. Sedangkan
tujuan yang kedua itu Diakonia yang mana umat kristiani menyakini akan bahwa
Gereja itu merupaka misi dari tuhan.
B. Gereja sebagai tubuh Kristus
Ada pun maksud dari sini ialah bukan hanya
mengartikan tubuh yesus itu secara jasmaniyah atau individu akan tetapi maksud
disinia ialah umum untuk semuanya. Dalam Perjanjian Baru menamai
gereja itu dengan beberapa istilah, yaitu gereja adalah bait Allah, bangsa
Allah, Israel baru. Tetapi istilah yang paling tepat adalah gereja sebagai
tubuh Kristus. Istilah ini sangat banyak dalam surat-surat Paulus (Ef 1:22;
5:29; Kol 1:18; 1 Kor 10:6). Dari ayat-ayat ini dinyatakan walaupun anggota
tubuh dalam satu badan yang berbeda, tapi mempunyai tugas masing-masing dan
tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Tubuh dan kepala ialah
perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan wujud gereja[5].
Ada beberapa arti dalam
istilah ini yang pertama itu Tubuh Kristus berarti bahwa di dalam gereja ada
hubungan dengan Kristus. Gereja bukan lanjutan inkarnasi Allah. Tapi tanda itu
nampak di dunia ini. Kristus telah pernah datang berupa badan manusia, sekarang
berada dalam tubuh-Nya yakni gereja. Jadi gereja adalah tubuh
duniawi dari Tuhan surgawi.
Selain itu juga Gereja
dikumpulkan dan diperintahkan oleh Kristus sang kepala gereja. Gereja
tidak boleh bertindak seolah-olah ia berdiri sendiri dan tidak boleh memerintah
diri sendiri. Dari awal, gereja adalah milik Kristus dan Dia-lah yang
memerintah (Kristokrasi).Jadi gereja bukan perkumpulan orang-orang yang saleh.
Gereja dijadikan oleh Kristus dan milik Kristus.
Ada juga arti yang
menyatakan bahwa Perkataan tubuh Kristus berarti anggota gereja bukan membntuk
kesatuan oleh dorongan hati sendiri. Mereka adalah satu kesatuan. Gereja bukan
gabungan oknum-oknum yang mengakibatkan berdirinya gereja. Gereja melebihi
oknum, melebihi jumlah anggota jemaat, gereja adalah ibu orang percaya.
Dan
yang terakhir Istilah tubuh ada kaitannya dengan suatu badan yang tampak. Jika
kita lihat gereja, kita melihat anggota jemaat, pendeta dll. Tapi masih ada
yang tidak kelihatan, yaitu iman, persekutuan. Kita percaya bahwa kita adalah
anggota jemaat yang telah dipanggil dan dibenarkan juga dihimpunkan oleh Tuhan.
Kita tidak boleh membedakan gereja yang tampak dan tidak tampak. Keduanya
adalah dua segi dari satu badan.
C. Hubungan gereja dengan kerajaan Allah
Di dalam Al kitab kita mendapatkan
bahwa Yesus sendirilah yang pertama kali menggunakan kata Gereja atau Jemaat.
Dalam (Matius
16:16-18) ketika pertama kali Kristus berbicara mengenai
gereja, yang Ia maksudkan adalah Gereja atau Jemaat yang Universal, yang
sesungguhnya tidak keliatan oleh mata manusia[6]. Atas
dasar pernyataan Yesus ini maka dapat di sebutkan bahwa gereja adalah:
Ø Milik Kristus;
Ø Hanya ada satu (kata gereja di sini tidak di
tulis dalam bentuk jamak).
Ø Didirikan oleh Kristus sendiri.
Ø
Dibangun atas Batu Karang (pondasi rohani), yaitu Yesus
Kristus.
Ø Akan mengalahkan alam maut.
Ø Memiliki kunci kerajaan surge.
Ø Akan memiliki kuasa untuk mengikat dan
melepaskann, baik dibumi maupun di sorga
Jelaslah bahwa diantara
Kerajaan Allah dan Gereja terdapat hubungan yang erat, karena Kristus telah
memberikan kunci kerajaan surga
kepada gereja.George E. Ledd menyatakan bahwa Kerajaan Allah harus dianggap
sebagai pemerintahan Allah. Gereja dengan demikian merupakan kumpulan
orang yang berbeda dibawah pemerintahan Allah. Kerajaan Allah adalah
kepemimpinan Allah, sedangkan gereja merupakan masyarakat yang berbeda dibawah
kepemimpinan tersebut. Lima butir dasar hubungan di antara Kerajaan Allah dengan
Gereja, yaitu:
Ø Gereja
bukan Kerajaan Allah.
Ø Kerajaan Allah mendirikan Gereja.
Ø Gereja
menyaksikan kerajaan Allah.
Ø Gereja
merupakan alat Kerajaan Allah.
Ø
Gereja adalah pemelihara-penjaga kerajaan Allah[7].
Jadi, Gereja meruapakan manifestasi dari kerajaan atau
pemerintahan Allah. Gereja merupakan bentuk pemerintahan Allah tersebut dimuka
bumi ini. Gereja merupakan manifestasi pemerintahan Allah yang berdaulat di
dalam hati kita, dimana kehendak Allah dilaksanakan.(Erickson,
Millard J., 1985. Christian Theology. Edisi Indonesia diterjemahkan (1998), 3
jilid, Penerbit Gandum Mas: Malang).
D. Gereja Sebagai Doktrin Penyelamatan
Gereja
sangat identik dengan doktrin dan dogma-dogma yang ditetapkan dan dianut olehnya.Selain
zaman sekarang yang sering dikatakan sebagai zaman yang mendekati “akhir zaman”
gereja mau tidak mau juga identik dengan paham keselamatan yang dimengerti oleh
gereja. Masalah akhir zaman, merupakan masalah yang berkaitan dengan pertanyaan
“masuk surga atau masuk neraka kah kelak kita ketika Allah datang kedua
kali?”.Pembahasan tentang pernyataan ini sebenarnya bukan hanya dibahas pada
masa-masa sekarang, namun telah ada sejak kekristenan muncul. Dan pengertian tentang keselamatan yang “katanya”
akan menuju surga itu, juga telah menyebabkan perpecahan gereja mula-mula yang
disebut dengan masa reformasi.
Banyak teolog yang membahas tentang dosa dan
keselamatan yang mengkaitkan dengan pertobatan. Dimana pertobatan sangat
penting bagi keselamatan bahkan sangat mempengaruhi keselamatan manusia dari
api neraka tempat terdapat tangisan dan kertak gigi (Mat 22:13 ; Mat 8:12 ; Mat
25:30 ; Luk 13:28).
Soteriologi adalah sebuah pengajaran tentang penyelamatan
(bahasa Yunani: Sôteria yang berarti keselamatan)[8]. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keselamatan
berarti keadaaan yang selamat; kesejahteraan, kebahagiaan.Soteriologi
berhubungan dengan pengkhususan tentang teologi penciptaan yang berhubungan
erat dengan ketritunggalan Allah.Dalam sejarah umat manusia, karya penyelamatan
itu di lakukan oleh Allah Tritunggal dalam wujud Sabda dan Roh Kudus.
Pada pengkategorian Soteriologi sebagai pemikiran
teologi, kata “selamat’ dalam “penyelamatan” mengandung banyak arti.Diantaranya
selamat bererti manusia yang tidak berdosa karena dosa yang telah dihapuskan,
dan keadaan dimana manusia menyatu dengan Allah karena karya penyelamatan
tersebut dan pengertian yang berbeda menurut teolog dan filsuf lainnya dalam
pemikiran dan zaman yang berbeda.
Penyelamatan itu ada ketika pertobatan itu ada dan
pertobatan ada ketika dosa itu juga ada. Dosa pada saat ini dianggap sebagai
suatu pelanggaran pada tindakan, sikap atau dosa juga dianggap sebagai sesuatu
yang alami yang melawan atau berlawanan dengan hukum atau perintah Tuhan .
E. Pengertian Sakramen
Istilah sakramen telah dipakai oleh jemaat kristiani sejak
abad yang pertama untuk mengatakan kumpulan orang yang diperbolehkan hadir dan
turut ambil bagian dalam perjamuan kudus, dan waktu baptis kudus dilayani.
Sakramen adalah tanda dan meterai yang kelihatan dan suci
yang ditentukan oleh Tuhan untuk menjelaskan segala sesuatu yang
dijanjikan-Nya, atau dapat pula diartikan tanda dan meterai yang meneguhkan
iman.
Ø Tanda adalah gambaran untuk memperingati sesuatu yang tidak
kelihatan, seperti pelangi dijadikan tanda anugerah Allah setelah ada air bah.
Ø Meterai (Rm 4:11) mengatakan bahwa sesuatu adalah benar;
meterai menjamin kebenaran.
Dalam PL, sunat menjadi meterai kebenaran janji Allah.
Demikian juga tanda-tanda sakramen dalam PB dijadikan meterai untuk
segala sesuatu yang dijadiakan oleh Tuhan, dan ketentuan janji itu menjadi
besar jika melihat meterai-meterai itu. Kata “sakramen” tidak diambil dari
Alkitab, melainkan dari adat istiadat Roma, yaitu dari kata “sakramentum”.
Kata ini memilki dua arti, yaitu:
a) Sumpah prajurit, yaitu sumpah kesetiaan yang harus diucapkan
oleh seorang prajurit di hadapan panji-panji kaisar.
b) Uang tanggungan, yang harus diletakkan di kuil oleh dua
golongan yang sedang berperkara. Siapa yang dalam perkara itu akan kehilangan
uangnya.
Oleh karena itu maka kata sakramen (yang dijabarkan dari kata
sacer = kudus) mengandung juga arti perbuatan atau perkara yang rahasia, yang
kudus, yang berhubungan dengan para dewa. Berhubung dengan itu maka kata
sacramentum kemudian dipandang sebagai terjemahan dari bahasa yunani Mysterion.
Sakramen beararti suatu
kenyataan yang tampak yang meghadirkan rahmat penyelamataan Allah. Dengan
kata lain, sakramen adalah suatu “tanda” yang tampak dari karya Allah yang
tidak tampak.
Orang-orang
Kristiani yankin bahwa keberadaan Gereja (jemaat Kristiani) di dunia ini
menandakan karya yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan oleh Allah bagi umat
manusia melalui manusia Yesus. Karya Allah, yaitu karya rekonsiliasi/pendamaian
(medamaikan manuisa dengan Allah dan manusia dengan manusia) dan karya
pengudusan (membuat manusia menjadi kudus, yaitu hidup dalam kasih
dan ketaatan kepada Allah), berlanngsung di dalam dan di luar Gereja Kristiani
(misalnya, Allah berkarya pula dalam umat Islam). Keberadan Gereja menjadi
saksi karya pendamaian dan pengudusan yang dilakukan Allah dalam sejarah dan
menunjukan cara Allah menurut keyakinan Kristiani melaksanakan penyelamatan
umat manusia.
Orang-orang
Kristiani yakin bahwa Kristus yang telah bangkit hidup didalam dan bersama
dengan umat-Nya dan senantiasa melakukan hal yang sama seperti yang telah Ia
lakukan dalam hidup Nya di Palestina mengajar, berdoa, member makan,
menghibur, mengampuni, menderita, dan mati di bunuh. Aktifitas yang tidak
nampak ini dibuat tampak dalam kehidupan umat melalui penerimaan
sakramen-sakramen. Dengan kata lain, ketika orang Kristiani mengambil bagian
dalam penerimaan sakramen, ia percaya bahwa ia berjumpa dengan Kristus yang
telah bangkit yang menawarkan rahmat penyelamatan Allah[9].
Hampir
semua orang Kristiani sependapat bahwa sakramen yang utama ada dua, yaitu:
Sakramen Baptis dan Ekaristi. Disamping sakramen yang utama ini, orang-orang
Kristiani Ortodoks dan Katolik meyakini ada lima sakramen yang lain, sehingga
semuanya ada tujuh sakramen. Gereja-gereja Protestan bervariasi dalam hal
jumlah sakramen yang mereka akui, tetapi kebanyakan menerima ada dua sakramen
utama, yaitu Baptis dan Ekaristi (Perjamuan Kudus). Sedikit saja Gereja
Protestan, misalnya “Quakers” (Penggoncang) dan “Salavation Army” (Bala
Keselamatan) yang sama sekali tidak mempunyai sakramen. (Thomas Michel S. J . 2001, hal, 78-79).
F.
Sakramen
dalam Gereja Roma
Khatolik dan Kristen Protestan
Dalam
tradisi Kekristenan Barat, sakramen kerap diartikan sebagai tanda yang
terlihat, yakni kulit luar
yang membungkus isinya, yaitu rahmat rohaniah (walaupun tidak semua sakramen
diterima semua Gereja sebagaisakramen). ketujuh sakramen
adalah Pembaptisan, Krisma (atau Penguatan), Ekaristi (Komuni), Imamat (Pentahbisan), Rekonsiliasi (atau Pengakuan
Dosa), Pengurapan orang
sakit (Minyak Suci), dan Pernikahan.
Kebanyakan dari sakramen-sakramen ini digunakan sejak
masa apostolik dalam Gereja, tetapi perkawinan, misalnya, baru diakui sebagai
suatu sakramen pada abad pertengahan.Beberapa
Gereja tidak menganggap beberapa dari sakramen di atas sebagai sakramen.
Beberapa Gereja yang lain, misalnya Gereja Anglikan dan Kaum Katolik-Lama
(bukan Gereja Katolik), menganggap dua sakramen ketuhanan dalam Injil, yaitu Pembaptisan dan Ekaristi, sebagai
"sakramen-sakramen yang diperintahkan, yang mendasar, dan yang utama, yang
dianugerahkan bagi keselamatan kita," serta menganggap kelima ritus
sakramental lainnya sebagai "sakramen rendah" yang merupakan turunan
dari kedua sakramen utama tadi[10].
Sudah
jelas bahwa Gereja-Gereja, denominasi-denominasi, dan sekte-sekte Kristen tidak
sepaham dalam hal jumlah dan pelaksanaan sakramen, namun umumnya
sakramen-sakramen diyakini telah dilembagakan oleh Yesus. Pihak yang tidak percaya pada teologi sakramental menyebut
ritus-ritus tersebutatau setidak-tidaknya ritus-ritus yang mereka gunakan terutama pembaptisan dan Komuni, sebagai "ordinansi."Sakramen-sakramen
biasanya dilayankan oleh klerus bagi satu atau lebih penerima, dan umumnya
difahami melibatkan unsur-unsur yang terlihat dan yang tak terlihat. Unsur yang
tak terlihat (yang bermanifestasi di dalam diri) dianggap terjadi berkat
karya Roh Kudus,
rahmat Allah bekerja di dalam diri para penerima sakramen, sedangkan unsur yang
terlihat (atau yang tampak dari luar) meliputi penggunaan benda-benda sepertiair, minyak, roti,
serta roti dan anggur yang
diberkati atau dikonsekrasi; penumpangan tangan; atau suatu kaul(sumpah)
penting tertentu yang ditandai dengan suatu pemberkatan umum (seperti pada
pernikahan dan absolusi).
SAKRAMEN DALAM GEREJA
KHATOLIK
Ketujuh sakramen adalah sebagai berikut:
Beberapa Gereja menggunakan nama-nama lain
untuk menyebut sakramen-sakramen yang mereka akui, misalnya Krisma (Bahasa
Inggris:
Chrismation, Bahasa Italia: Crezima) adalah sebutan Gereja
Ortodoks untuk
menyebut ritus penerimaan meterai Roh Kudus (Sakramen Penguatan); dan
Gereja-Gereja Protestan di Indonesia lebih umum menggunakan sebutan Sakramen
Perjamuan Kudus atau Sakramen Meja Tuhan dari pada Sakramen Ekaristi atau
Komuni Suci.
Selain ketujuh sakramen di atas, beberapa
golongan Kristen (khususnya golongan Anabaptis dan kelompok-kelompok
Persaudaraan) mengakui upacara pembasuhan kaki sebagai sakramen (lihat Injil
Yohanes 13:14), dan beberapa golongan Kristen lainnya (Misalnya Polish National
Catholic Church of America) ingin agar mendengarkan Pembacaan Injil dianggap
sebagai suatu sakramen pula. Jumlah, nama dan makna sakramen-sakramen serta penambahan
sakramen-sakramen baru berbeda beda antara satu denominasi dengan denominasi
lainnya.
Berbagai
Gereja bertradisi Katolik juga mengenal sakramental, yakni tindakan
penyembahan yang berbeda dari layaknya sakramen-sakramen, namun juga merupakan
sarana-sarana rahmat. Benda-benda seperti rosario (tasbih), berbagai macam
skapulir dan medali suci termasuk dalam sakramental[11].
Pendekatan
ini merupakan karakteristik teologi Ortodoks pada umumnya, dan kerap disebut
"apofatik," artinya setiap dan semua pernyataan positif mengenai
Allah dan hal-hal teologis lainnya harus diimbangi dengan pernyataan-pernyataan
negatif. Misalnya, meskipun bahwasanya benar dan tepat untuk mengatakan bahwa
Allah itu ada, atau bahkan bahwa Allah adalah satu-satunya yang sungguh-sungguh
ada, pernyataan-pernyataan semacam itu harus difahami juga mengandung gagasan
bahwa Allah melampaui apa yang biasanya difahami dengan istilah
"ada."Meskipun demikian, para teolog Ortodoks menulis juga mengenai
adanya tujuh misteri (sakramen) "utama."
SAKRAMEN GEREJA PROTESTAN
Bagi
Gereja Protestan, kata
"menjadi perantara" atau "menyalurkan" digunakan hanya
dengan pemahaman bahwa sakramen adalah suatu simbol atau peringatan yang
terlihat dari rahmat yang tak terlihat.
Gereja-Gereja Pentakosta klasik, kaum Injili, Nazarin dan Fundamentalis, menganut suatu bentuk imamat yang unik. Karena alasan
ini, kebanyakan dari mereka lebih suka menggunakan istilah “Fungsi Imamat” atau
“Ordinansi”. Keyakinan ini menjadikan ordinansi efektif dalam hal ketaatan dan
partisipasi orang-orang percaya serta kesaksian pimpinan dan anggota jemaat[12].
Cara
pandang ini bersumber dari pengembangan konsep "imamat setiap orang
percaya". Kegiatan ordinansi lebih ditekankan peran imamat dari pada peran
sakramentalnya sehingga ordinansi lebih dipandang sebagai suatu tindakan
pengorbanan yang dipersembahkan oleh orang-orang percaya dari pribadinya
masing-masing, dari pada sebagai suatu ritual yang mengandung kuasa sendiri.
G. Jenis Jenis dan Makna Sakramen
Dalam bagian ini pembahasan akan
pemaknaan sakramen yang dilakukan oleh umat Kristiani yang sering mereka
lakuakn dan makna yang terdapat dalam setiap Sakramennya. Diantaranya yaitu:
·
Sakramen
pemembaptisan
Dalam kitab injil dijelaskan (Mat
28:19, Yoh 3: 5) ini merupakan sakramen yang pertama umat kristiani, yang mana
umat yang beriman ini harus melakukan sakramen ini sebelum melakukan sakramen
yang lainnya. Untuk menghapus dosa yang dahulu yang menjadikan warisan dari
orang yang pertama yaitu Nabi Adam, selain itu juga menganugrahkan jasad jasad
Kristus yang telah menyatu dengan jiwa umat Kristiani. Pembaptisan juga hanya
dilakukan sekali selama seumur hidup namun meninggalkan matrai rohani yang
tidak dapat dihapuskan.
·
Sakramen
Penguatan
(Kis 2:14-18, 9:17-19, 10:45,
19:5-6, Titus 3:4-8). Yang mana sakramen ini untuk menjadikan umat kristiani
ini mejadi Dewasa dan menjadikan sebagai saksi-saksi Kristus. Penguatan juga
hanya dilakukan sekali selama seumur hidup namun meninggalkan matrai rohani
yang tidak dapat dihapuskan.
·
Sakramen
Ekaristi
Sakramen ini merupakan sakramen
yang bisa dikatan sakramen yang kudus atau komuni kudus. Yang mana sakramen ini
merupakan sakramen penyatuan drah dengan jiwa Kristus. Ekaristi bukanlah bukan
sekedar lambang belaka akan tetapi tubuh dan darah jiwa kristus. Dalam
mukzikjat perayaan Ekaristi imam mengkonsentrasikan dengan roti dan anggur yang
menjadikan sebagai darah dan jiwanya (1 Kor 11:23-15). (Yoh 6:48 - 52) jika
kita melakukan dosa berat kita harus mengakukan dosa kita sebelum kita
melakukan komuni kudus jika tidak maka komuni kudus bukan mendatangkan rahmat
bagi jiwa akan tetapi mendatangkan dosa Sakrilegi[13].
·
Sakramen
Tobat
Merupakan sakramen pengakuan atau
rekonsiliasi, kristus memberikan kekuasan kepada rasul untuk membebaskan dosa
dosa dan para rasul meneruskan kekuasaan itu kepada Uskup dan Imam. Sakramen
taubat mengampunan setelah sakramen pembaptisan ketika mengaku dosa umat
beriman harus mengaku dosa dasa yang ada didirinya. Menurut jenisnya, misalnya
Perjinahan atau pencurian serta menurut jumlahnya misalnya satu kali, beberapa
atu sering kali. Setelah mengakui dosa dosanya kemudian mendengarkan nasehat
dari imam, mengucapkan tobat, menerima absolusi pengmpunan Kristus dari imam.
·
Sakramen
Pengurapan orang Sakit
Yang mana dalam sakramen ini
merupakan sakramen penyembuhan yang mana langsug pertolongan dari tuhan .
Batuan tuhan melalui keutan rohaniah menolong orang sakit menuju kesembuhan jiwa
tetapi juga menuju kesembuhan badan kalau itu sesuai kehendak allah. (Mrk 6:13
yak 5:14-15).
·
Sakramen
Tahdisan
Yang merupakan sakramen ini untuk
meneruskan suatu warisan sakramen dari para rasul. Ada tiga jenjang sakramen
Tahdisan yaitu diakon, imam, uskup. Yang boleh menerima Sakramen hanya imama
dan Uskup dan mempersembahkan koraban Missa (Mat 19:22, Luk 18:29-20, 1 Kor
7).
·
Sakramen
Pernikahan
Dengan sakramen ini tuhan telah
menganugrahkan kepada semua orang untuk saling menyayangi yang mana dalam
sakramen pernikahaan ini juga manusia diharuskan menjaga akan keharmonian yang
mana dalam Khatolik pembatalan dari pernikahaan itu bukanlah perceraian. (Mrk
10:22-12, EF 5:22-33).
H. Sakramen Sebagai dokrin
penyelamatan
Sakramen menjadi
lambang serta Sarana Penyelamatan manusia merupakan kehendak
Allah dan itu diwujudkandan dilaksanakan dalam Yesus
Kristus. Yesus Kristus menjadi sakramen induk, artinya dalam
dialah terjadi sejarah penyelamatan Allah.Kristus menjadi
lambang dan sarana Allah yang menyelamatkan umat manusia.
Sekarang,
tindak penyelamatan Allah itu dilanjutkan oleh Allah dalam Gereja,
Tubuh Kristus.Gereja didirikan oleh Kristus bukan untuk dirinya sendiri,
tetapi untuk tujuan penyelamatan itu. Gereja menjalankan fungsi
penyelamatan yang diembannya dalam Roh Kudus yang dijanjikan
Kristus. Gereja merupakan tanda dan tempat kehadiran Kristus[14].
Gereja
adalah tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan sebagian terlaksana dalam Yesus
Kristus. Oleh karena itu, Gereja juga disebut sakramen dasar karena Kritus,
kalau demikian, Gereja menjadi lambang dan sarana penyelamatan Allah yang
terwujud dalam Kristus.
I.
Hubungan
antara Gereja dan Sakramen
Sakramen – sakramen Gereja ini
tidak dapat dipisahkan dari ibadat atau liturgi Gereja, karena semua sakramen-sakramen
adalah bentuk bentuk ibadat gereja. Yaitu mereka mereyakan misteri merayakan
penyelamatan Allah melalui Kristus. Melalui tanda – tanda, mereka menghasilkan
rahmat yang sesuatu dengan masing masing Sakramen bagi pribadi - pribadi yang merayakan
sakramen sakramen ini.
Sejrah keselamatan adalah sejarah perjumpaan personal
Allah dengan manusia dan penyingkapan penyelamatan rencana keselamatan-Nya
dalam sejarah. Yang mana perjumpaan Personal Allah dengan manusia ini yang
siatifnya datang dari Allah dan hanya dari dia, telah terpenuhi
sekali untuk selamanya dalam Yesus KristuS, dalam satu Pengantara
jarak tak terbatas yang memisahkan manusia dari Allah
telah dijembatani[15].
melalui misteri Paskah Kristus semua manusia telah diselamatkan dan dipersatukan dengan Allah.
Dengan demikian ada dua pengeshan Fundamental baerkaitan
dengan ajaran gereja tentang Sakramen yang pertama, Gereja adalah Tempat
meyimpan tanda tanda yang ditetapkan oleh Kristus, yang dipercayakan-Nya pada
Gereja supaya dipelihara dan dirayakan dengan setia. Yang kedua, Tanda-tanda
ini, karena mereka adalah tanda tanda tindakan Kristus yang mulia, merupakan
tanda tanda yang berdaya rahmat. Dirancang oleh-Nya untuk mengkomunikasikan
penyelamatan-Nya dan dianggap-Nya sebagai tindakan-Nya sendiri, tanda tanda itu
tidak di halangi dalam validasi mereka oleh kelemahan manusiawi dari para
pelayannya, sejauh mereka bermaksud untuk mengkomunikasikan apa yang telah
dipercayakan Kristus pada Gereja.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas yang mana dalam
pengertian gereja itu merupakan misi yang memenag datang dari Allah untuk
menuntun dan membebaskan manusia dari dosan, selain itu juga manusia akan
dibimbing oleh Roh kudus. Dari pada itu juga dalam hubungan bahwa geresa
merupakan tubuh kristus dikarnakan gereja merupakan sekumpulan umat yang
mempercayai akan Kristus itu sendiri.
Dalam pembahasan akan sakramen yang
ditas bisa kita ambil dari iti sari nya yaitu bahwa mereka melakukan Sakaramen
Pembaptisan terlebih dahulu. Bagi orang yang beriman dia diwajibkan melakukan
Sakramen Pembaptisan terlebih dahulu sebelum melakukan sakramen yang
lainnya
Daftar pustaka
Sudarmi. R,
Ikhtisar Dogmatika, 1982, BPK Gunung Mulya- Jakarta
Berkhof .H,
Iman Kristen, Momentum, Surabaya 2010.
Harun Hadiwijono, Iman Kristen, Jakarta:
BPK-GM, 2009
G.C. van Niftrik & B.J. Boland, Dogmatika
Masa Kini, Jakarta: BPK-GM, 2008
Erickson,
Millard J., 1985. Christian Theology. Edisi Indonesia diterjemahkan (1998), 3
jilid, Penerbit Gandum Mas Malang
[1]
Di
dalam PB kata yang dipakai untuk menyebutkan persekutuan para orang beriman
adalahekklesia, yang berarti rapat atau perkumpulan yang terdiri dari
orang-orang yang dipanggil untuk berkumpul.Mereka berkumpul karena dipanggil
atau dikumpulkan
[5]
Ibid h 234
[7]
Ibid h 342
[10]
Ibid hlm 90
[11] Erickson, Millard J., 1985. Christian Theology. Edisi
Indonesia diterjemahkan (1998), 3 jilid, Penerbit Gandum Mas Malang
[13]
Ibid hlm 126
Tidak ada komentar:
Posting Komentar