Senin, 12 Desember 2016

PAGUYUBAN SUMARAH




Makalah
Paguyuban sumarah
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah aliran kepercayan
Dosen : Hamid Nasuhi






Di susun oleh:

M. Rahmat Ramadhan (1113032100036)

Jurusan perbandingan agama
Fakultas ushuluddin
Universitas islam negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta
2016






DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………....2
            Latar Belakang Masalah…………………………………………………………….……2
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………………………….3
            Sejarah Paguyuban Sumarah ………………………………………………………..…....3
            Konsep Ketuhanan dalam Ajaran Sumarah…………………………………………...…..6
            Konsep Manusia dalam Ajaran Sumarah ……………………………………………...….6
            Konsep Kesunyatan dalam Ajaran Sumarah,…………………………………………...…9
BAB III PENUTUP ………………………………………………………………………...…12
            Kesimpulan ……………………………………………………………………………..12
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………..13












BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Kali ini kami dari pemakalah ingin membahas tentang aliran kepercayaan Paguyuban Samarah. Dimana ini merupakan salah satu topik dari aliran kepercayaan, kita akan melihat dari sisi yang lain, dalam artian kita melihat dari konsep ketuhanan mereka walaupun sebagian dari konsep atau ketentuannya sedikit mengambil dari agama Islam dan agama Hindu.
Selain kita melihat akan konsep ketuhanan mereka kita melihat aspek yang lain atau konsep lain yang mereka yakini misalnya mereka menyakini bahwa tujuan Sumara itu adalah bersatunya Hamba dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan melalui cara Sujud Samarah yang mana suju inilah yang akan menghantarkan mereka kepada tujuan dari Paguyuban Samarah.
Selain itu juga mereka memiliki konsep manusia yang mana konsep ini bahwa manusia memiliki empat unsur yang mana unsur ini saling melengkapi dan tidak ada sikap yang paling sendiri yang bisa menentukan hanya dirinya sendiri. Penjelannya akan kita jelaskan dalam bab selanjutnya atau bab pembahasan. Yang mana kita akan mengumpas, melihat dan memandang bagaimana sejarah berdirinya, konsep kelepasan, konsep manusia dan lain sebagainya.
Karena ketika kita melihat dinegara kita yaitu negara indonesia ini merupakan negara yang memiliki banyak sekali kepercayaan kepercayaan kecil atau aliran aliran yang berkembang di Nusantara ini. Maka sebagai mahasiswa perbandingan agama kita wajib mengetahui akan aliran atau kenapa tunbuhnya aliran itu menjadi sebuah kepercayaan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Paguyuban Samarah
Paguyuban ini berdiri pada tahun 1937 yang mana baru diproklamirkan atau dibentuk secara melembaga atau organisasi ketika tahun 1950 samapi tahun 1972 yang merupakan pimpinan umumnya itu dokter Soerono Prodjohoesodo. Yang mana mereka menyakini bahwa Ilmu Samarah itu telah diwahyukan kepada pegawai kesultanan Yogyakarta yaitu R. Ng. Soekirnohatono (pak kino), pada tahun 1935. Ketika itu indonesia sedang diambang dalam kehancuran akan penjajahan belanda yang mana ketika itu R. Ng. Soekirnohatono turut prihatin terhadap keadaan indonesia yang sekarang pada waktu itu.
Awal mulanya R. Ng. Soekirnoharto memikirkan bagaimana nasib bangsa inidonesia. Maka dengan hal itu ia melakukan permohonan terhadp tuhan agar memberikan jalan kepada bangsa ini  yang dimana merutut cerita pada suatu malam beliau menerima ilham supaya menyebarkan ilmu sumarah kepada umat manusia. Yang mana mula mula beliau menolak akan tetapi setelah beliau mendapat penjelasan bahwa beliau akan bertindak sebagai corong belaka, maka diterimalah perintah ilham itu dengan syarat “kemerdekaan indonesia” sebagai upahnya. Syarat tersebut disanggukan oleh Tuhan Yang Maha Esa, sekalipun baru sepuluh tahun kemudian kemerdekaan benar benar diberikan kepada bangsa indonesia.
Ada beberapa pandangan salah satunya menurut Dotkter Soerono “ilmu sumarah adalah salah satu dari ilmu kebatinan yang dengan jalan sujud sumarah (menyerahkan diri) mempelajari sampai tercapai bersatunya jiwa dengan Dhat Yang Maha Esa”[1].
Pada dasrnya ilmu sumarah itu berlansan sistem pamong (pengasuhan) bukan dengan sistem bukan sistem Paguro (perguruan). Menurut Dokter soerono “yang mana pengajaran itu disesuaikan dengan perkembangan zaman atau keadaan zaman, maksudnya itu ialah bahwa ajaran itu memiliki tingkatan seperti halnya perguruan tinggi, yaitu ada tinggakatan paling bawawah atau tahap persiapan, toingkat I, II, III, IV, dan V.  yang mana bisa dianalogikan seperti  ini bahwa yang sudah mencapai tingkay ke V maka ia mendapat gelar sebagai sarjana muda sedangkan, yang lulus dari tinggkatan V maka ia mendapat gelar Doktorandus dalam ajaran Sumarah”[2].
Paguyuban Sumarah ini juga memiliki sebuah tujuan yaitu mancapai ketentraman lahir dan batin,  melihat pada anggaran dasarnya a). memberi tunutunna kepada anggotanya untuk melaksanakan “sesangeman” (tegas, kesangupan). b).ikut serta mengegakkan negara menuju dunia yang damai. c). membimbing keutamaan kehidupan lahir anggotanya dalam masyarakat[3].
Yang mana pokok dari ajaran Sumarah itu adalah Sujud. Dalam kalangan ini di jelaskan sebagai “persekutuan dengan Tuhan”. Orang harus melatih diri utuk bersujud hingga mencapai Sujud Sumarah, yaitu persekutuan dengan Tuhan dengan cara menyerah. Meneurut mereka bahwa orang yang sudah mencapai sujud suarah itu,  jika sudah berhasil mempersatukan akan angan-angan, rasa dan budi. (nur, urip, yakin hidup)[4].
Ketika sesorang itu ingin masuk menjadi anggota Paguyuban Sumarah maka ia harus menyatakan sikap atau kesanghupan Sesanggeman. Yang mana orang yang ingin bergaabung maka ia harus menyatakan kesediaan Sesanggemannya. Sesanggeman ini terdiri dari 9 pasal yaitu
1)      Percaya kepada Allah dan nabi-Nya serta kitab-kitabnya.
2)      Kesanggupan untuk senantiasa mengingat Allah, menjauh diri dari rasa mengaku (menyatakan berhak atas segala sesuatu), kumingsun (sombong), dan percaya kepaada kesunyatan dan sujud sumarah kepada Allah.
3)      Berusaha bagi kesehatan badan, ketentraman hati dan kesucian ruh, serta pembangunan watak dan percakapan.
4)      Mempererat persaudaraan berdasarkan kasih.
5)      sanggup berusaha untuk kewajiban hidup dalam masyarakat dan engara yang akan menghasilkan perdamaian dunia.
6)      sanggup bertindak benar, menaati undang-undang negara dan menghargai sesamanya.  
7)      menjauhkan diri dari perbuatan jahat.
8)      rajin berusaha meluaskan pengetahuan lahir dan batin.
9)      tidak fanatik, hanya percaya kepada keunyatan yang berfaedah bagi masyarakat.  
Setelah seseorang itu menyatakan akan kesanggupannya kemudian ia langsung dilatih sujud. Yang mana melatih sujud ini bukan sama artiannya dengan sujud yang sering umat islam artikan, akan tetapi sujud disini merupakan konsep kepasrahan kepada tuhan dari hambanya.
Sebelum mencapai kepada tujuannya maka harus mengikuti dulu latihan sujud ini yang pertama, “menenangkan Pancaindra”. Maka ketika kemangan sudah tercapai maka mulailah naik ketinggkat I melalui ssumpah, yaitu : mengucapkan sahadat pertama dibawah pimpinan mahasiswa tinggkat V. dengan demikian orang itu telah di pelonco dan di terima menjadi mahasiswa.
Dalam latihan sujud pada tingkat V, diberikan juga kuliah oleh apa yang disebut “Warono”. Yaitu pimpinan umum yang dianggapnya sebgai corong Tuhan Yang Maha Esa. Worono ini juga mendapat pelatihan langsung dari Dzat Yang Maha Esa sendiri. Yang mana kuliah yang diajarkan itu merupakan sebuah wewarah (ajaran) yang berhubungan dengan Ilmu Sumarah.
B.     Konsep ketuhanan dalam Ajaran Sumarah
Dalam konsep tentang ketuhanan dalam ajaran ini tidak begitu banyak membicarakan soal ini. Mereka menyatakan bahwa tuhan Allah itu ada, yang mana diterimanya tanpa mengadakan pembicaraan tentang dia. Tuhan Allah menurut mereka di sebut “Tuhan Yang Maha Esa. Di tempat lain juga “Dzat Yang Maha Esa”,[5] yang mana tempat-Nya ada di dalam manusia di wakili oleh hidup (Urip)[6]. Ada pun pendaapat dari Dokter Soerono bahwa “jiwa manusia adalah Pletikan (bunga api) dari Tuhan Allah.
C.    Konsep Manusia dalam Ajaran Sumarah
Menurut Ajaran Ilmu Sumarah bahwa manusia itu terdiri dari Badan Wadag (Jasmani), Badan Nafsu, Jiwa dan Roh.
a.       Badan wadag (jasmani)
Yang mana Badan Wadag ini berasal dari empat anasir yaitu Tanah, Air, Api dan Angin. Maka ketika ada seseorang yang meninggal maka harus di kubur atau di bakar karena dikembalikan kembali keasalnya. Badan Wadag ini di lengkapi dengan alat alat yang sangat lengkap yaitu Pancaindra, yang mana Pancaindra ini dikuasi oleh Pemikir (kecakapan berfikir). Pemikir ini hanya bersangkutan dengan segala perkara duniawai, yaitu mencakapkan orang untuk mendapatkan segala pengetahuan dan pengalaman hidup. Adapun alat yang sangat erat sekali hubungannya dengan pemikir adalah Angan Angan.
Yang mana dalam kehidupan sehari hari keduanya yaitu Pemikir dan Angan-angan bekerja sama secara erat. Apa yang telah di dapat oleh pemikir maka dilanjut kepada Angan – angan, untuk di simpan dengan baik. Angan angan juga dijadikan alat untuk melakukan sujud atau bersekutu dengan Tuhan Allah.
b.      Badan Nafsu
Badan Nafsu ini merupakan berasal dari Allah melalui perantara Iblis dan akan dikembalikan kepada asalnya juga. Ada empat nafsu yaitu :
·         Nafsu Mutma’inah ialah segala sumber perbuatan yang baik dan sumber semangat dalam mencari allah.
·         Nafsu Ammarah ialah sumber kemarahan
·         Nafsu Suwiyah ialah sifat erotis
·         Nafsu Lauwamah ialah sifat mementingkan diri sendiri atau egois.
Adapun pusat dari segala nafsu itu disebut Suksma, yang harus dibedakan dengan Jiwa, yaitu jiwa yang tak berjasad. Daya pendorong atau pun pusat dari pemikir, angan-angan, nafsu dan Suksma disebut Nyawa, yaitu jiwa yang Piskologis, yang harus dibedakan pula dengan jiwa sebagai bagian dari manusia yang tak berjasad.   
c.       Jiwa dan Roh
Jiwa dan roh merupakan bagian ketiga dari manusia, yang berasal dari roh suci atau dari Allah, dan akan di kembalikan lagi kepada asalnya jika orang mati dengan sempurna[7]. Ada pun bagian yang sangat erat dengan jiwa ialah Rasa , yang harus dibedakan dengan Perasaan sebagai alat pengindraan. Yang mana rasa ini terdapat di dalam Sanubari, yang terletak kiranya di dalam dada dan yang termasuk dunia bayangan[8].
            Dalam pandangan paguyuban sumarah itu manuisa dengan peralatan jasmani dan rohani itu ditempatkan di tiga alam.
·         Alama yang Tampak, ialah tempat badan Wadag atau badan jasmani dengan peralatannya yitu pemikir, yang menguasai Pancaindra, angan-angan, yang memilki dua fungsi yaitu menyimpan dengan baik apa yang diterima pemikir dan menjadi alat bersujud (bersekutu dengan Allah). Kemudian Suksma, yang menuasai segala nafsu dan Nyawa, yang menjadi pendorong pemikir, angan-angan dan Suksma.
·         Alam Ghaib, yang mungkin pada manusia kira-kira terdapat didalam sanubari, dan yang nenaruh didalannya Qolbu, Masjidilkharam, Baitullah, Budi, Nur dan Urip.
·         Alam Ghaib yang lebih luas lagi yang pada manusia kira kira verada di dalam jantung, dan yang menaruh didalanya Qolbu, Masjidilkharam, Baitullah, Budi, Nur dan Urip.
Adapun menurut doketr Soerono ia menjelaskan hal ini. Bahwa dunia yang tampak itu terdiri dari, angan-angan dengan pancaindra, pemikir, Nyawa, Nafsu, Suksma. Sedangkan Alam Ghaib yang di dalam sanubari terdiri dari, Sanubari, Rasa, Jiwa. Dan alam gaib yang lebih luas itu terdiri dari, Qolbu, masidilkharam, baitullah, budi, nur, urip.
D.    Konsep Kesunyataan dalam ajaran Sumarah
Dalam ajaran sumarah bahwa manusia itu dalam kehidupan kesehariannya bisa di umpamakan seprti Negara yang di perintah melalau sistem Parlementer. Dengan perantara Sujud yang dimana sujud disini jangan di arikan sama dengan sujud umat Islam. Akan tetapi Sujud disini ialah sebagai sebuah Persekutuan dengan Allah. Yang dimana dalam ajaran Sumarah ini berusaha merubah sistem pemerintahan Kabinet Parlementer menjadi sistem Persidensil. Dimana dengan hal ini jiwa tidak hanya berfungsi sebagaai simbol saja, tetapi jiwa juga dapat menguasai para nafsunya sedemikian rupa, yang sehingga para nafu itu yang iartikan sebagai mentri tidak akan melakukan sesuka hati akaan tetaapi tunduk kepada jiwa[9].
            Dalam konsep kesunyataan atau kesempurnaan bagi mereka itu harus terbebas dari konsep Tumimbal lahir / rengkarnasi, yang dimana mereka harus bisa menguasai tiga tingkatan sujud. Sehingga bisa terlepas dari yang namanya Tumimbal lahir yaitu :
a)      Tingkatan yang petama (Sujud Raga)
Dalam tingkatan ini Angan-angan dijadikan sebagai alat yang sangat penting untuk melakukan Sujud, agar angan-angan ini bisa digunakan sebagai mestinya maka angan-angan harus dipisahkan dengan pemikir. Supaya tidak terganggu oleh pemikir yang senaan tiasa menerima cerapan-cerapan dari luar melalui pancaindra. Setelah kita bisa memisahkan antara angan-angan dengan Pemikir. Maka Angan-angan itu harus diturunkan kedalam sanubari yang terletak di dalam dada.
Tindakan ini dapat dibantu dengan Dzikir yaitu mengucapkan nama nama Allah, yang mana ini dapat memudahkan pemusatan angan-angan itu di dalam sanubari. Maka hal ini disebut dengan sujud raga (bersatu dengan Allah dengan perantara Badan Wadag atau Badan Kasar).
b)      Tingkatan yang kedua ialah (Sujud Jiwa-Raga)
Dalam tingkatan ini angan-angan yang sudah dipisahkan dari Pemikir dan sudah ditempatkan di dalam sanubari. Yang kemudian di dekatkan dengan Rasa terdapat di dalam dada, sehingga keduanya itu Angan-angan dan Rasa. Dapat bersujud secara berdampingan yang mana Rasa disini mewakili Jiwa. Maka itulah kenapa sujud ini disebut dengan sujud Jiwa dan Raga. Dalam tahap yang kedua ini orang harus melakukan sujud dan mengulang sujud setiap hari baik dirumah maupun di kantor atau di mana pun kita berada. Selain itu juga sujud ini merupakan kuci dari sujud sumarah (persekutuan dengan Allah melalui penyerahan diri). Tanpa melalui tahapan ini orang tidak akan mencapai tujuannya.
c)      Tingkataan yang ketiga (Tetap Iman)
Jikta tahapan yang kedua sudah tercapai. Maka di dalam sanubari orang itu ada sujud yang Tetap, yang mana orang itu merasakan akan kesatuannya dengan Allah yang tetap ini di sebut dengan Sujud Tetap Iman. Yang mana orang ini telah melakukan atau melaksanakan sujud selama 24 jam dan dalam taraf ini orang bisa mendapatkan atau menerima sabda allah tanpa batas waktu, tempat dan keadaan.
d)     Tingkatan yang ke empat (Jumbuhing Kaula-Gusti)
Ini merupakan taraf sujud yang paling tertinggi, dimana orang yang telah mencapai kepada Jumbuhing Kaula-Gusti (Kesatuan Hamba dangan Tuhan). Ini tidak berati jiwa manusia dilarutkan kedalam Allah, melainkan bahwa diantara Allah dan jiwa ada kesatuan kehendak.. Barang siapa yang berhasil dalam taraf ini dengan tiba tiba ada Rasa, bahwa sujudnya sudah dipindahkan dari sanubari kedalam jantung, tempat Qolbu. Yang kemudian Rasa sujud itu akan terasa sementara waktu saja, kemudiam rasa Sujud itu lenyap, sehingga tiada rasa apa-apa lagi.
Maka ketika tidak ada rasa Sujud atau kesatuan lagi, karena hamba dan tuhan telah bersatu, sehingga dengan sendirinya tiasa lagi pihak yang bersujud dan pihak yang disujudi. Maka inilah yag disebut dengan “Jumbuhing Kaula-Gusti” atau disebut dengan “Gambuh”.
Dalam kepercayaan mereka ketika melakukan Sujud harus diringi dengan sikap hidup yang menurut mereka sikap hidup itu terdiri dari 3 sikap hidup. Yaitu :
·         Sikap tidak berbuat apa apa artinya disini ialah orang harus mengakui, bahwa dia sendiri tidak kuasa apa apa, kecuali karena kehendak Allah, jadi orang harus selalu merendah diri.
·         Sikap tidak memiliki apa apa artinya orang harus menyadari bahwa segala miliknya itu merupakan milik tuhan, yang mana ini merupakan sebuah titipan yang harus dipelihara. Sikap ini sama yang dijelaskan dalam Sepi ing pamrih rame ing gawe.
·         Sikap menyerahkan jiwa-raga kepada Allah. Yang mana merupakan mewujudkan dari kelanjutan kedua sikap yang diatas tersebut.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Bahwa aliran kepercayaan yang mengatasnamakan ilmu Sumarah ini didirikan oleh pak soekinohartono (pak kino) pada tahun sekitar 1935 M. yang mana dalam ilmu Sumarah ini tidak banyak membicarakan tetang tuhan akan tetap banyak membicaran tentang Sujud, yang mana sujud disi jangan di artikan sebagai Sujud halnya umat Islam. Akan tetapi sujud disini itu tetang persekutuan hamba dengan Tuhan-Nya.
Dalam konsep manusianya pun ajaran sumarah memiliki tiga unsur yaitu Badan Wadag, Badan Nafsu, Jiwa dan Roh. Yang mana Badan wadag ini terdiri dari 4 unsur yaitu tanah, air,api dan angin. Yang mana semuannya ini kan dikembalikan kembali kepada asalnya. Sedangkan Badan Nafsu itu terdiri dari empat Nafsu yaitu : Nafsu Mutma’inah, nafsu Ammarah, Nafsu Suwiyah, dan Nafsu Lawwamah. Yang mana Nafsu Mutma’inah itu ialah segala sumber dari perbuatan baik dan sember semangat mencari Allah. Nafsu Ammarah ialah sumber kemarahan, Nafsu Suwiyah ialah Sifat erotis, dan Nafsu Lauwamah ialah sifat untuk mementingkan diri sendiri atau egois.
Nahkan dalam konsep kesunyatan atau kelpasan pun terdapat 3 tingkatan yaitu tingkatan yang pertama ialah Sujud Raga yang mana di tingakatan ini kita harus bisa memisahkan antara angan-angan dengan pemikir dan untuk mengaplikasikannya diharuskan melakukan Dzikir menyebut nama nama-Nya. Tingkatan yang  kedua ialah Sujud Jiwa-Raga, tingkatan yang ketiga ialah Tetap Iman dan yang ke empat ialah Jumbuhing Kaula-Gusti yang mana tingkatan ini merupakan tingkatan yang paling akhir dan paling tinggi tingkatannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar