Makalah
Paguyuban sumarah
Makalah
ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah aliran kepercayan
Dosen
: Hamid Nasuhi
Di susun oleh:
M. Rahmat Ramadhan (1113032100036)
Jurusan perbandingan agama
Fakultas ushuluddin
Universitas islam negeri
Syarif Hidayatullah
Jakarta
2016
DAFTAR
ISI
BAB
I PENDAHULUAN……………………………………………………………………....2
Latar Belakang Masalah…………………………………………………………….……2
BAB II
PEMBAHASAN……………………………………………………………………….3
Sejarah
Paguyuban Sumarah ………………………………………………………..…....3
Konsep Ketuhanan dalam
Ajaran Sumarah…………………………………………...…..6
Konsep
Manusia dalam Ajaran Sumarah ……………………………………………...….6
Konsep Kesunyatan
dalam Ajaran Sumarah,…………………………………………...…9
BAB
III PENUTUP ………………………………………………………………………...…12
Kesimpulan ……………………………………………………………………………..12
DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………………………………………..13
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Kali ini kami dari
pemakalah ingin membahas tentang aliran kepercayaan Paguyuban Samarah. Dimana
ini merupakan salah satu topik dari aliran kepercayaan, kita akan melihat dari
sisi yang lain, dalam artian kita melihat dari konsep ketuhanan mereka walaupun
sebagian dari konsep atau ketentuannya sedikit mengambil dari agama Islam dan
agama Hindu.
Selain kita melihat
akan konsep ketuhanan mereka kita melihat aspek yang lain atau konsep lain yang
mereka yakini misalnya mereka menyakini bahwa tujuan Sumara itu adalah
bersatunya Hamba dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan melalui cara Sujud Samarah
yang mana suju inilah yang akan menghantarkan mereka kepada tujuan dari
Paguyuban Samarah.
Selain itu juga
mereka memiliki konsep manusia yang mana konsep ini bahwa manusia memiliki
empat unsur yang mana unsur ini saling melengkapi dan tidak ada sikap yang
paling sendiri yang bisa menentukan hanya dirinya sendiri. Penjelannya akan
kita jelaskan dalam bab selanjutnya atau bab pembahasan. Yang mana kita akan
mengumpas, melihat dan memandang bagaimana sejarah berdirinya, konsep
kelepasan, konsep manusia dan lain sebagainya.
Karena ketika kita
melihat dinegara kita yaitu negara indonesia ini merupakan negara yang memiliki
banyak sekali kepercayaan kepercayaan kecil atau aliran aliran yang berkembang
di Nusantara ini. Maka sebagai mahasiswa perbandingan agama kita wajib
mengetahui akan aliran atau kenapa tunbuhnya aliran itu menjadi sebuah
kepercayaan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Paguyuban Samarah
Paguyuban ini
berdiri pada tahun 1937 yang mana baru diproklamirkan atau dibentuk secara
melembaga atau organisasi ketika tahun 1950 samapi tahun 1972 yang merupakan
pimpinan umumnya itu dokter Soerono Prodjohoesodo. Yang mana mereka menyakini
bahwa Ilmu Samarah itu telah diwahyukan kepada pegawai kesultanan Yogyakarta
yaitu R. Ng. Soekirnohatono (pak kino), pada tahun 1935. Ketika itu indonesia
sedang diambang dalam kehancuran akan penjajahan belanda yang mana ketika itu
R. Ng. Soekirnohatono turut prihatin terhadap keadaan indonesia yang sekarang
pada waktu itu.
Awal mulanya R. Ng.
Soekirnoharto memikirkan bagaimana nasib bangsa inidonesia. Maka dengan hal itu
ia melakukan permohonan terhadp tuhan agar memberikan jalan kepada bangsa
ini yang dimana merutut cerita pada
suatu malam beliau menerima ilham supaya menyebarkan ilmu sumarah kepada umat
manusia. Yang mana mula mula beliau menolak akan tetapi setelah beliau mendapat
penjelasan bahwa beliau akan bertindak sebagai corong belaka, maka diterimalah
perintah ilham itu dengan syarat “kemerdekaan indonesia” sebagai upahnya.
Syarat tersebut disanggukan oleh Tuhan Yang Maha Esa, sekalipun baru sepuluh tahun
kemudian kemerdekaan benar benar diberikan kepada bangsa indonesia.
Ada beberapa
pandangan salah satunya menurut Dotkter Soerono “ilmu sumarah adalah salah satu dari ilmu kebatinan yang dengan jalan
sujud sumarah (menyerahkan diri) mempelajari sampai tercapai bersatunya jiwa
dengan Dhat Yang Maha Esa”[1].
Pada dasrnya ilmu
sumarah itu berlansan sistem pamong (pengasuhan)
bukan dengan sistem bukan sistem Paguro (perguruan). Menurut Dokter soerono
“yang mana pengajaran itu disesuaikan dengan perkembangan zaman atau keadaan
zaman, maksudnya itu ialah bahwa ajaran itu memiliki tingkatan seperti halnya
perguruan tinggi, yaitu ada tinggakatan paling bawawah atau tahap persiapan,
toingkat I, II, III, IV, dan V. yang
mana bisa dianalogikan seperti ini bahwa
yang sudah mencapai tingkay ke V maka ia mendapat gelar sebagai sarjana muda
sedangkan, yang lulus dari tinggkatan V maka ia mendapat gelar Doktorandus
dalam ajaran Sumarah”[2].
Paguyuban Sumarah
ini juga memiliki sebuah tujuan yaitu mancapai ketentraman lahir dan batin, melihat pada anggaran dasarnya a). memberi
tunutunna kepada anggotanya untuk melaksanakan “sesangeman” (tegas, kesangupan). b).ikut serta mengegakkan negara
menuju dunia yang damai. c). membimbing keutamaan kehidupan lahir anggotanya
dalam masyarakat[3].
Yang mana pokok
dari ajaran Sumarah itu adalah Sujud. Dalam kalangan ini di jelaskan sebagai
“persekutuan dengan Tuhan”. Orang harus melatih diri utuk bersujud hingga
mencapai Sujud Sumarah, yaitu
persekutuan dengan Tuhan dengan cara menyerah. Meneurut mereka bahwa orang yang
sudah mencapai sujud suarah itu, jika
sudah berhasil mempersatukan akan angan-angan,
rasa dan budi. (nur, urip, yakin
hidup)[4].
Ketika sesorang itu
ingin masuk menjadi anggota Paguyuban
Sumarah maka ia harus menyatakan sikap atau kesanghupan Sesanggeman. Yang
mana orang yang ingin bergaabung maka ia harus menyatakan kesediaan Sesanggemannya. Sesanggeman ini terdiri dari 9 pasal yaitu
1)
Percaya
kepada Allah dan nabi-Nya serta kitab-kitabnya.
2)
Kesanggupan
untuk senantiasa mengingat Allah, menjauh diri dari rasa mengaku (menyatakan
berhak atas segala sesuatu), kumingsun (sombong), dan percaya kepaada
kesunyatan dan sujud sumarah kepada Allah.
3)
Berusaha
bagi kesehatan badan, ketentraman hati dan kesucian ruh, serta pembangunan
watak dan percakapan.
4)
Mempererat
persaudaraan berdasarkan kasih.
5)
sanggup
berusaha untuk kewajiban hidup dalam masyarakat dan engara yang akan menghasilkan
perdamaian dunia.
6)
sanggup
bertindak benar, menaati undang-undang negara dan menghargai sesamanya.
7)
menjauhkan
diri dari perbuatan jahat.
8)
rajin
berusaha meluaskan pengetahuan lahir dan batin.
9)
tidak
fanatik, hanya percaya kepada keunyatan yang berfaedah bagi masyarakat.
Setelah seseorang itu menyatakan akan kesanggupannya
kemudian ia langsung dilatih sujud. Yang mana melatih sujud ini bukan sama
artiannya dengan sujud yang sering umat islam artikan, akan tetapi sujud disini
merupakan konsep kepasrahan kepada tuhan dari hambanya.
Sebelum mencapai kepada tujuannya maka harus mengikuti
dulu latihan sujud ini yang pertama, “menenangkan Pancaindra”. Maka ketika
kemangan sudah tercapai maka mulailah naik ketinggkat I melalui ssumpah, yaitu
: mengucapkan sahadat pertama dibawah pimpinan mahasiswa tinggkat V. dengan
demikian orang itu telah di pelonco dan di terima menjadi mahasiswa.
Dalam latihan sujud pada tingkat V, diberikan juga kuliah
oleh apa yang disebut “Warono”. Yaitu pimpinan umum yang dianggapnya sebgai
corong Tuhan Yang Maha Esa. Worono ini juga mendapat pelatihan langsung dari
Dzat Yang Maha Esa sendiri. Yang mana kuliah yang diajarkan itu merupakan
sebuah wewarah (ajaran) yang berhubungan dengan Ilmu Sumarah.
B. Konsep
ketuhanan dalam Ajaran Sumarah
Dalam konsep tentang ketuhanan dalam ajaran ini tidak
begitu banyak membicarakan soal ini. Mereka menyatakan bahwa tuhan Allah itu
ada, yang mana diterimanya tanpa mengadakan pembicaraan tentang dia. Tuhan
Allah menurut mereka di sebut “Tuhan Yang Maha Esa. Di tempat lain juga “Dzat
Yang Maha Esa”,[5]
yang mana tempat-Nya ada di dalam manusia di wakili oleh hidup (Urip)[6]. Ada pun pendaapat dari Dokter Soerono bahwa “jiwa manusia
adalah Pletikan (bunga api) dari
Tuhan Allah.
C. Konsep
Manusia dalam Ajaran Sumarah
Menurut Ajaran Ilmu Sumarah bahwa manusia itu terdiri
dari Badan Wadag (Jasmani), Badan Nafsu, Jiwa dan Roh.
a.
Badan
wadag (jasmani)
Yang mana Badan Wadag ini berasal dari empat anasir yaitu
Tanah, Air, Api dan Angin. Maka ketika ada seseorang yang meninggal maka harus
di kubur atau di bakar karena dikembalikan kembali keasalnya. Badan Wadag ini
di lengkapi dengan alat alat yang sangat lengkap yaitu Pancaindra, yang mana
Pancaindra ini dikuasi oleh Pemikir (kecakapan berfikir). Pemikir ini hanya bersangkutan
dengan segala perkara duniawai, yaitu mencakapkan orang untuk mendapatkan
segala pengetahuan dan pengalaman hidup. Adapun alat yang sangat erat sekali
hubungannya dengan pemikir adalah Angan Angan.
Yang mana dalam kehidupan sehari hari keduanya yaitu
Pemikir dan Angan-angan bekerja sama secara erat. Apa yang telah di dapat oleh
pemikir maka dilanjut kepada Angan – angan, untuk di simpan dengan baik. Angan
angan juga dijadikan alat untuk melakukan sujud atau bersekutu dengan Tuhan
Allah.
b.
Badan
Nafsu
Badan Nafsu ini merupakan berasal dari Allah melalui
perantara Iblis dan akan dikembalikan kepada asalnya juga. Ada empat nafsu
yaitu :
·
Nafsu
Mutma’inah ialah segala sumber
perbuatan yang baik dan sumber semangat dalam mencari allah.
·
Nafsu
Ammarah ialah sumber kemarahan
·
Nafsu
Suwiyah ialah sifat erotis
·
Nafsu
Lauwamah ialah sifat mementingkan
diri sendiri atau egois.
Adapun pusat dari segala nafsu itu disebut Suksma, yang harus dibedakan dengan Jiwa, yaitu jiwa yang tak berjasad. Daya
pendorong atau pun pusat dari pemikir, angan-angan, nafsu dan Suksma disebut Nyawa, yaitu jiwa yang Piskologis, yang
harus dibedakan pula dengan jiwa sebagai bagian dari manusia yang tak berjasad.
c.
Jiwa
dan Roh
Jiwa dan roh merupakan bagian ketiga dari manusia, yang
berasal dari roh suci atau dari Allah, dan akan di kembalikan lagi kepada
asalnya jika orang mati dengan sempurna[7].
Ada pun bagian yang sangat erat dengan jiwa ialah Rasa , yang harus dibedakan dengan Perasaan sebagai alat
pengindraan. Yang mana rasa ini
terdapat di dalam Sanubari, yang
terletak kiranya di dalam dada dan yang termasuk dunia bayangan[8].
Dalam
pandangan paguyuban sumarah itu manuisa dengan peralatan jasmani dan rohani itu
ditempatkan di tiga alam.
·
Alama
yang Tampak, ialah tempat badan Wadag atau badan jasmani dengan peralatannya
yitu pemikir, yang menguasai
Pancaindra, angan-angan, yang memilki dua fungsi yaitu menyimpan dengan baik
apa yang diterima pemikir dan menjadi alat bersujud (bersekutu dengan Allah).
Kemudian Suksma, yang menuasai segala nafsu dan Nyawa, yang menjadi pendorong
pemikir, angan-angan dan Suksma.
·
Alam
Ghaib, yang mungkin pada manusia kira-kira terdapat didalam sanubari, dan yang
nenaruh didalannya Qolbu, Masjidilkharam, Baitullah, Budi, Nur dan Urip.
·
Alam
Ghaib yang lebih luas lagi yang pada manusia kira kira verada di dalam jantung,
dan yang menaruh didalanya Qolbu, Masjidilkharam, Baitullah, Budi, Nur dan
Urip.
Adapun menurut doketr Soerono ia menjelaskan hal ini.
Bahwa dunia yang tampak itu terdiri dari, angan-angan dengan pancaindra,
pemikir, Nyawa, Nafsu, Suksma. Sedangkan Alam Ghaib yang di dalam sanubari
terdiri dari, Sanubari, Rasa, Jiwa. Dan alam gaib yang lebih luas itu terdiri
dari, Qolbu, masidilkharam, baitullah, budi, nur, urip.
D. Konsep
Kesunyataan dalam ajaran Sumarah
Dalam ajaran sumarah bahwa manusia itu dalam kehidupan
kesehariannya bisa di umpamakan seprti Negara yang di perintah melalau sistem
Parlementer. Dengan perantara Sujud yang dimana sujud disini jangan di arikan
sama dengan sujud umat Islam. Akan tetapi Sujud disini ialah sebagai sebuah
Persekutuan dengan Allah. Yang dimana dalam ajaran Sumarah ini berusaha merubah
sistem pemerintahan Kabinet Parlementer menjadi sistem Persidensil. Dimana
dengan hal ini jiwa tidak hanya berfungsi sebagaai simbol saja, tetapi jiwa
juga dapat menguasai para nafsunya sedemikian rupa, yang sehingga para nafu itu
yang iartikan sebagai mentri tidak akan melakukan sesuka hati akaan tetaapi
tunduk kepada jiwa[9].
Dalam
konsep kesunyataan atau kesempurnaan bagi mereka itu harus terbebas dari konsep
Tumimbal lahir / rengkarnasi, yang dimana mereka harus bisa menguasai tiga
tingkatan sujud. Sehingga bisa terlepas dari yang namanya Tumimbal lahir yaitu
:
a)
Tingkatan
yang petama (Sujud Raga)
Dalam tingkatan ini Angan-angan dijadikan sebagai alat
yang sangat penting untuk melakukan Sujud, agar angan-angan ini bisa digunakan
sebagai mestinya maka angan-angan harus dipisahkan dengan pemikir. Supaya tidak
terganggu oleh pemikir yang senaan tiasa menerima cerapan-cerapan dari luar
melalui pancaindra. Setelah kita bisa memisahkan antara angan-angan dengan
Pemikir. Maka Angan-angan itu harus diturunkan kedalam sanubari yang terletak
di dalam dada.
Tindakan
ini dapat dibantu dengan Dzikir yaitu mengucapkan nama nama Allah, yang mana
ini dapat memudahkan pemusatan angan-angan itu di dalam sanubari. Maka hal ini disebut dengan sujud raga (bersatu dengan
Allah dengan perantara Badan Wadag atau Badan Kasar).
b)
Tingkatan
yang kedua ialah (Sujud Jiwa-Raga)
Dalam tingkatan ini angan-angan yang sudah dipisahkan
dari Pemikir dan sudah ditempatkan di dalam sanubari. Yang kemudian di dekatkan
dengan Rasa terdapat di dalam dada, sehingga keduanya itu Angan-angan dan Rasa.
Dapat bersujud secara berdampingan yang mana Rasa disini mewakili Jiwa. Maka
itulah kenapa sujud ini disebut dengan sujud Jiwa dan Raga. Dalam tahap yang
kedua ini orang harus melakukan sujud dan mengulang sujud setiap hari baik
dirumah maupun di kantor atau di mana pun kita berada. Selain itu juga sujud
ini merupakan kuci dari sujud sumarah (persekutuan dengan Allah melalui
penyerahan diri). Tanpa melalui tahapan ini orang tidak akan mencapai
tujuannya.
c)
Tingkataan
yang ketiga (Tetap Iman)
Jikta tahapan yang kedua sudah tercapai. Maka di dalam
sanubari orang itu ada sujud yang Tetap, yang mana orang itu merasakan akan
kesatuannya dengan Allah yang tetap ini di sebut dengan Sujud Tetap Iman. Yang
mana orang ini telah melakukan atau melaksanakan sujud selama 24 jam dan dalam
taraf ini orang bisa mendapatkan atau menerima sabda allah tanpa batas waktu,
tempat dan keadaan.
d)
Tingkatan
yang ke empat (Jumbuhing Kaula-Gusti)
Ini merupakan taraf sujud yang paling tertinggi, dimana
orang yang telah mencapai kepada Jumbuhing Kaula-Gusti (Kesatuan Hamba dangan
Tuhan). Ini tidak berati jiwa manusia dilarutkan kedalam Allah, melainkan bahwa
diantara Allah dan jiwa ada kesatuan kehendak.. Barang siapa yang berhasil
dalam taraf ini dengan tiba tiba ada Rasa, bahwa sujudnya sudah dipindahkan
dari sanubari kedalam jantung, tempat Qolbu. Yang kemudian Rasa sujud itu akan
terasa sementara waktu saja, kemudiam rasa Sujud itu lenyap, sehingga tiada
rasa apa-apa lagi.
Maka ketika tidak ada rasa Sujud atau kesatuan lagi,
karena hamba dan tuhan telah bersatu, sehingga dengan sendirinya tiasa lagi
pihak yang bersujud dan pihak yang disujudi. Maka inilah yag
disebut dengan “Jumbuhing Kaula-Gusti” atau disebut dengan “Gambuh”.
Dalam
kepercayaan mereka ketika melakukan Sujud harus diringi dengan sikap hidup yang
menurut mereka sikap hidup itu terdiri dari 3 sikap hidup. Yaitu :
·
Sikap
tidak berbuat apa apa artinya disini ialah orang harus
mengakui, bahwa dia sendiri tidak kuasa apa apa, kecuali karena kehendak Allah,
jadi orang harus selalu merendah diri.
·
Sikap
tidak memiliki apa apa artinya orang harus menyadari bahwa
segala miliknya itu merupakan milik tuhan, yang mana ini merupakan sebuah
titipan yang harus dipelihara. Sikap ini sama yang dijelaskan dalam Sepi ing pamrih rame ing gawe.
·
Sikap menyerahkan jiwa-raga kepada Allah. Yang mana merupakan mewujudkan dari kelanjutan kedua
sikap yang diatas tersebut.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Bahwa aliran kepercayaan yang mengatasnamakan ilmu
Sumarah ini didirikan oleh pak soekinohartono (pak kino) pada tahun sekitar
1935 M. yang mana dalam ilmu Sumarah ini tidak banyak membicarakan tetang tuhan
akan tetap banyak membicaran tentang Sujud, yang mana sujud disi jangan di
artikan sebagai Sujud halnya umat Islam. Akan tetapi sujud disini itu tetang
persekutuan hamba dengan Tuhan-Nya.
Dalam konsep manusianya pun ajaran sumarah memiliki tiga
unsur yaitu Badan Wadag, Badan Nafsu, Jiwa dan Roh. Yang mana Badan wadag ini
terdiri dari 4 unsur yaitu tanah, air,api dan angin. Yang mana semuannya ini
kan dikembalikan kembali kepada asalnya. Sedangkan Badan Nafsu itu terdiri dari
empat Nafsu yaitu : Nafsu Mutma’inah, nafsu Ammarah, Nafsu Suwiyah, dan Nafsu
Lawwamah. Yang mana Nafsu Mutma’inah itu ialah segala sumber dari perbuatan
baik dan sember semangat mencari Allah. Nafsu Ammarah ialah sumber kemarahan,
Nafsu Suwiyah ialah Sifat erotis, dan Nafsu Lauwamah ialah sifat untuk
mementingkan diri sendiri atau egois.
Nahkan dalam konsep kesunyatan atau kelpasan pun terdapat
3 tingkatan yaitu tingkatan yang pertama ialah Sujud Raga yang mana di
tingakatan ini kita harus bisa memisahkan antara angan-angan dengan pemikir dan
untuk mengaplikasikannya diharuskan melakukan Dzikir menyebut nama nama-Nya.
Tingkatan yang kedua ialah Sujud
Jiwa-Raga, tingkatan yang ketiga ialah Tetap Iman dan yang ke empat ialah
Jumbuhing Kaula-Gusti yang mana tingkatan ini merupakan tingkatan yang paling
akhir dan paling tinggi tingkatannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar