Makalah
Kerangka berfikir, teorisasi dan hipotesa
Makalah
ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah Metode Penelitian
Dosen
: M. Amin Nurdin, Dr. MA
Di susun oleh:
M. Rahmat Ramadhan (1113032100036)
Jurusan perbandingan agama
Fakultas ushuluddin
Universitas islam negeri
Syarif Hidayatullah
Jakarta
2015
DAFTAR
ISI
BAB I
PENDAHULUAN .................................................................................................
2
Latar Belakang Masalah.................................................................................................
2
BAB II
PEMBAHASAN ..................................................................................................
3
Pola Logika ...........................................................................................................
3
Teorisasi ................................................................................................................
4
Pola induksi ...........................................................................................................
7
Pola Deduksi .........................................................................................................
9
Hubungan antara keduanya
............................................................................... 10
BAB III
PENUTUP..........................................................................................................
11
Kesimpulan
..........................................................................................................
11
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................................
12
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Metodologi penelian
merupakan suatu cabang ilmu yang membahas tentang cara atau metode yang
digunakan dalam kegiatan penlitian . sementara itu, peenelitian adalah upaya
mencari kebenaran akan sesuatu. Yang mana upaya penelitian ini berupa meneliti.
Kegiatan meneliti ini menempuh beberapa langkah mulai dari pemilihan judul dan
rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori,
hipotesis, dan lain sebagainya.
Setelah peneliti
mengadakan penelaahan yang mendalam terhadap berbagai sumber untuk menentukan
anggapan dasar, maka langkah jawaban yang bersifat sementara terhadap
permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Yang mana
dalam makalah ini akan dibahas tentang kerangka berfikir, teorisasi, dan
hipotesis.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pola
logika
Pola logika ialah
penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan kita,
disusun berdasarkan tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang relevan. Yang
merupakan argumentasi kita dalam merumuskan hipotesis. Sementara untuk
merumuskan hipotesis, maka argumentasi berpikir menggunakan logika deduktif
dengan memakai pengetahua ilmiah sebagai premis-premis dasarnya. Kerangka
berpikir pada dasarnya adalah buatan kita sendiri (bukan buatan orang lain),
yaitu cara kita berargumentasi dalam merumuskan hipotesis.
Kerangka berfikir yang
baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan
diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel
independen dan dependen. Bila dalam penelitian ada variabel moderator dan
intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilibatkan
dalam penelitian. Pertautan antar variabel tersebut, selanjutnya dirumuskan ke
dalam bentuk paradigma penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan
paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berfikir
Penelitian yang berkenaan dengan dua
variabel atau lebih, biasanya dirumuskan hipotesis yang berbentuk komparasi
maupun hubungan. Oleh karena itu dalam rangka menyusun hipotesis penelitian
yang berbentuk hubungan maupun komparasi, maka perlu dikemukakan kerangka
berfikir. Suriasumantri 1986, dalam (Sugiyono, 2010) mengemukakan bahwa seorang
peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi
dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran
ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi obyek
permasalahan.
Kriteria utama agar suatu kerangka
pemikiran bisa meyakinkan sesama ilmuwan, adalah alur-alur pikiran yang logis
dalam membangun suatu kerangka berfikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa
hipotesis. Jadi kerangka berfikir merupakan sintesa tentang hubungan antar
variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan.
Berdasarkan teori-teori yang telah dideskripsikan tersebut, selanjutnya
dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang
hubungan antar variabel yang diteliti. Sintesa tentang hubungan variabel
tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis.[1]
B. Teoritisasi
Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah
kedua dalam proses penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori-teori,
konsep-konsep, generalisasi-generelisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan
sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian[2].
Teori adalah seperangkap konstruk (konsep), definisi
dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui
spesifikasi hubungan antara variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan
dan meramalkan fenomena.
Dalam buku pak sugiyono mengutip perkataan Siti rahayu
1999 menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting, bila ia
lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan dan meramalkan gejala yang ada. Mark
membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori ini berhubungan dengan data
empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain:
- Teori yang deduktif: memberikan keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan.
- Teori yang induktif: adalah cara menerangkan dari data ke arah teori. Dalam bentuk ekstrim titik pandang yang positivistik ini dijumpai pada kaum behaviorist
- Teori yang fungsional: di sini tampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data[3].
Berdasarkan pernyataan di atas secara umum dapat
ditarik kesimpulan bahwa, suatu teori adalah suatu konseptualisasi yang umum.
Konseptualisasi atau sistem pengertian ini diperoleh melalui, jalan yang
sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak, maka dia
bukan suatu teori.
Kegunaan
Teori dalam Penelitian
Seorang peneliti harus berbekal teori, karena semua
penelitian bersifat ilmiah. Dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunakan
harus sudah jelas, karena teori di sini akan berfungsi untuk memperjelas
masalah yang akan diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan
sebagai referensi untuk menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu landasan
teori dalam proposal penelitian kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang
akan dipakai.
Dalam kaitannya dengan kegiatan penelitian, maka
fungsi teori yang pertama digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang
lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti. Fungsi teori yang kedua
adalah untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian, karena
pada dasarnya hipotesis itu merupakan pernyataan yang bersifat prediktif.
Selanjutnya fungsi teori yang ketiga digunakan mencandra dan membahas hasil
penelitian, sehingga selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dan upaya
pemecahan masalah.
Deskripsi
Teori
Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan
uraian sistematis tentang teori (bukan sekedar pendapat pakar atau penulis
buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti.
Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan, akan tergantung pada
luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada jumlah variabel yang
diteliti. Bila dalam suatu penelitian terdapat tiga variabel independen dan
satu dependen, maka kelompok teori yang perlu dideskripsikan ada empat kelompok
teori, yaitu kelompok teori yang berkenaan dengan variabel independen dan satu
dependen. Oleh karena itu, semakin banyak variabel yang diteliti, maka akan
semakin banyak teori yang dikemukakan.
Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan
terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian
yang lengkap dan mendalam dari berbagai dari berbagai referensi, sehingga ruang
lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan
diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
Langkah-langkah
untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:
- Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya
- Cari sumber-sumber bacaan yang banyak dan relevan dengan setiap variabel yang diteliti.
- Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti. Untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian lihat penelitian permasalahan yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisis dan saran yang diberikan.
- Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, kemudian bandingkan antara satu sumber dengan sumber lainnya dan dipilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
- Baca seluruh isi topik buku sesuai dengan variabel yang akan diteliti lakukan analisis renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.[4]
C. Pola
induksi
Pola induksi adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa
prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta – fakta yang bersifat
khusus. Penalaran induktif tekait dengan empirisme. Secara impirisme, ilmu
memisahkan antara semua pengetahuan yang sesuai fakta dan yang tidak. Sebelum
teruji secara empiris, semua penjelasan yang diajukan hanyalah bersifat
sementara. Pola induksi ini berpangkal pada empiris untuk menyusun suatu
penjelasan umum, teori atau kaedah yang berlaku umum.
Jadi pada dasarnya itu melakukan penelitian dapat
dengan tanpa mendasarkan teori terlebih dahulu. (kalau ada teori yang
mendahuluinya juga boleh). Peneliti terjun langsung ke lapangan mencaritemukan
masalah.
Contoh: Bagaimana mengetahui kebudayaan suku asmat
di Papua. Tentu untuk mengetahuinya tidak banyak teori yang mendukung, peneliti
datang langsung ke lokasi, amati, bicara dengan suku asmat tersebut, maka kita
akan mengetahui bagaimana kebudayaan suku asmat itu. Alur penelitian dengan
nalar induksi berangkat dari bawah, artinya berangkat dari fakta di lapangan
atau hasil grandtour dan minitour di lapangan. Melihat secara keseluruhan
lapangan dan melihat secara terfokus. Dilakukan dengan cara pengamatan dan
wawancara.
Hasil pengamatan dan wawancara dicatat dengan
detail, rinci dan lengkap untuk mendapatkan gambaran yang juga detail, rinci
dan lengkap. Data hasil pengamatan dan wawancara merupakan data utama dalam
penelitian kualitatif.
Macam-macam
induksi diantaranya :
Ø Generalisasi
Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian
besar gejala yang diminati generalisasi mencakup ciri – ciri esensial, bukan
rincian. Dalam pengembangan karangan, generalisasi dibuktikan dengan fakta,
contoh, data statistik, dan lain-lain[5].
Contoh generalisasi adalah setelah di adakan peninjauan dan penelitian
lebih seksama, ternyata di kawasan bandung terdapat sekurang – kurangnya lima
buah obyek wisata. Di kawasan Garut tempat obyek wisata, di kawasan tasikmalaya
dan ciamis terdapat sekurang – kurangnya enam buah obyek wisata. Di daerah lain
seperti suka bumi, banten, danyang lainnya juga terdapat obyek wisata. Dapat di
katakan bahwa daerah jawa barat memang kaya dengan obyek wisata.
Macam-macam generalisasi:
·
Generalisasi
sempurna
Adalah
generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penimpulan diselidiki.
Generalisasi macam ini memberikan kesimpilan amat kuat dan tidak dapat
diserang. Tetapi tetap saja yang belum diselidiki.
·
Generalisasi
tidak sempurna
Adalah
generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang
berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.
Ø Analogi
Analogi adalah membandingkan dua hal yang banyak persamaanya. Kesimpulan
yang diambil dengan jalan analogi, yakni kesimpulan dari pendapat khusus dari
beberapa pendapat khusus yang lain, dengan cara membandingkan situasi yang satu
dengan yang sebelumnya.
Contoh analogi adalah alam semesta berjalan dengan teratur seperti jalannya
sebuah mesin. Matahari, bumi, bulan dan bintang berjalan seperti teraturnya
roda mesin. Semua bergerak menurutirama tertentu. Mesin itu penciptanya adalah
manusia. Alampun demikian, ada yangmenciptakannya yaitu yang maha segalanya.
Manusia tentunya senag dengan hasilcipta’annya. Demikian pula sang pencipta,
sayang pada semua yang di ciptakannya.Oleh sebab itu, manusia harus bertaqwa
kepadanya.
D. Pola Deduksi
Pola Deduksi adalah proses untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau
sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum.
Yakni dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal
yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduksi tersebut dapat dimulai
dari suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang kongkrit. Contoh :
Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah
kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang
menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status
social[6].
Selain itu juga deduktsi itu berhubungan erat dengan
metode penelitian kuantitatif. Penelitan kuantitatif adalah penelitian yang
meggunakan cara kerja dedukto-hipotetiko verifikatif. Artinya penelitian
kuantitatif dengan menggunakan nalar deduktif, dari nalar itu kemudian membuat
dugaan sementara/hipotesis dan akhirnya diverifikasi di lapangan.
Macam-macam penalaran deduktif diantaranya :
·
Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif.
Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi
(kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah
pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1 kesimpulan.
·
Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula
silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama
diketahui.
E.
Korelasi
Pola Deduksi dan Induksi
Kedua penalaran tersebut seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda
dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau
berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau
kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau
berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori. Dengan demikian, untuk
mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara
bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian
ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika. Upaya
menemukan kebenaran dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran induktif
tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan reflective thinking atau
berpikir refleksi.
Kedua penalaran tersebut di atas (penalaran deduktif dan induktif),
seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam
prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik
merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori
sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita
sedang mengandaikan teori[7].
Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut
dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam
suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam metode penelitian
ketika kita ingin melakukan penelitian terhadap suatu obyek itu kita harus
memiliki sebuah kerangka berfikir yang mana itu merupakan sebuah penalaran
terhadap objek dalam penelitian. Selain itu juga setelah melakukan penalaran
atau pola logika teorisasi bisa mulai digunakan dalam artian kita harus
menggunakan teori apa dan mengkritisi sebuah teori.
Setelah iti ada beberapa
pola dalam pengambilan sebuah kesimpulan atau pengamatan yang akan nantinya
menjadi sebuah jawaban sementara dalam hasil kita yaitu pola induksi dan pola
deduksi. Pola induksi merupakan sebuah penarikan kesimpulan yang berifat khusus
terhadap yang bersifat umum sedangkan induksi dari yang bersifat umum menuju
sifat yang khusus. Pada dasarnya dari kedua ini merupakan sebuah pengambilan
sementara akan jawaban atau hasil penelitian yang bisa dikatakan hipotesisi.
DAFTAR
PUSTAKA
Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kulaitatif dan R
& D, Bandung : Cv. Alfa Beta. 2010
Arikunto Suharsimi, Prof. Dr.
Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta : Rineka Cipta, 2010.
Bagong
Suyanto-Sutinah, MetodePenelitianSosial,
jakarta: Kencana, 2007.
[1]Sugiyono Prof. Dr., metode penelitian pendidikan pendekatan
kuantitatif, kulaitatif dan R & D, Bandung : Cv. Alfa Beta, 2010, hal.
60-61
[2] Ibid hal. 80
[3] Sugiyono Prof. Dr., metode penelitian pendidikan pendekatan
kuantitatif, kulaitatif dan R & D, Bandung : Cv. Alfa Beta, 2010
[4]Landasan Teori, Kerangka Pikir, dan Hipotesis, diakses pada tanggal
22/09/2015, pukul 18:30 Wib https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/05/21/landasan-teori-kerangka-pikir-dan-hipotesis/
[5] Arikunto
Suharsimi, Prof. Dr. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta :
Rineka Cipta, 2010.
[7] Sugiyono Prof. Dr., metode penelitian pendidikan pendekatan
kuantitatif, kulaitatif dan R & D, Bandung : Cv. Alfa Beta, 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar