Makalah
Islam dan
kesetaraan gender dikalangan masyarakat muslim indonesia
Makalah
ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah Gender
Dosen
: Siti Nadroh
Di susun oleh:
M. Rahmat Ramadhan (1113032100036)
Jurusan perbandingan agama
Fakultas ushuluddin
Universitas islam negeri
Syarif Hidayatullah
Jakarta
2015
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................
2
Latar
belakang Masalah .....................................................................................
2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................
3
Negara
dan Ideologi Ibuisme Masa Orde Lama dan Orde Baru...................... 3
Peran Gerakan Permpuan
Muslim Dalam Memperjuangkan Kesetaraan Gender Dalam Masa Revormasi...............10
Agenda Gerakan
Perempuan Muslim Kedepan ........................................................... 11
BAB III PENUTUP
........................................................................................................
17
Kesimpulan .........................................................................................................
17
DAFTAR PUSTAKA
......................................................................................................
18
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Perlu
diketahui terlebih dahulu mengenai Islam dan gender sebelum ke pembahasan lebih
jauh. Islam sangat memuliakan perempuan, hal ini terlihat dari Hadist Nabi
ketika ada seseorang yang bertanya mengenai siapa yang dihormati. Nabi
menjawabnya, ibu, ibu, ibu, dan bapak. Betapa mulianya seorang perempuan dalam
Islam. Dan juga Islam menyetarakan antara perempuan dan laki-laki dalam hal
lain, hanya yang membedakan derajat antara laki-laki dan perempuan itu dari
ketakwaannya.
Sedangkan
gender merupakan karakteristik sosial sebagai laki-laki dan perempuan seperti
yang diharapkan oleh masyarakat budaya melalui sosialisasi yang diciptakan oleh
keluarga dan atau masyarakat yang dipengaruhi oleh budaya, interpretasi agama,
struktur sosial dan politik. Kajian gender berfokus pada perbedaan peran,
fungsi, dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan hasil konteks sosial. Karena
dalam hal ini antara laki-laki dan perempuan secara sosial dan keberadaannya
berbeda dalam waktu, tempat, kultur bangsa maupun peradaban.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Negara dan Ideologi
Ibuisme Masa Orde Lama dan Orde Baru
1.
Masa Orde Lama
Hengkangnya
jepang dari indonesia karena kekalahannya dari tentara sekutu, membuat
indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Soekarno dan Hatta masing-masing
menjadi Presiden dan Wakil Presiden setelah keduanya terlibat dalam BPUPKI yang
dibentuk pada bulan juni 1945.
Sebagai
sebuah negara baru melepaskan diri dari belenggu penjajah, keadaan indonesia
dikepung oleh berbagai persoalan yang timbul bukan hanya dari luar melain kan
juga dari dalam. Tantangan besar yang datang dari luar adalah ketidak relaanya
belanda terhadap jajahannya. Sementara tantangan dari dalam adalah keadaan
republik ini yang masih lemah, kepemimpinan masih rawan, dan benturan penganut
agama dan etnis yang masih tajam. Begitu pula dalam bidang keamanan, tidak ada
orang yang memegang tongkat komando sehingga kesatuan milter yang ada bersaing
ketat. Sehingga berdampak pada indonesia yang tidak memiliki satuan angkatan
bersenjatanya.
Selama
periode ini banyak sekali terjadi perubahan politik PKI mulai bangkit pada
bulan Oktober 1945, begitu pun PNI yang juga dihidupkan kembali pada tahun
1946. Pada sisi lain pasukan inggris dan belanda telah menduduki kota-kota
besar disepanjang pesisir utara jawa, dan pusat pemerintahan pindah ke
jogjakarta. Partai politik pun bermunculan seperti PSI yang diusung oleh
syahrir dan pesindo yang didirikan oleh Amir Syripuddin. Kaum perempuan pun
terlibat dalam perubahan ini. Mereka terjun aktif dalam parpol tersebut,
khususnya Pemuda Putri Indonesia (PPI) yang mana dipimpin oleh Ny. Susilowati
yang memang dekat dengan Pesindo, sedangkan organisasi islam Masyumi tetap
hidup meskipun lebih beraliran moderen[1].
Ketika
masa kemerdekaan, gerakan perempuan di indonesia ditandai dengan munculnya
beberapa tokoh perempuan yang rata rata berasal dari kalangan atas Misalnya :
Kartini, Dewi Sartika, Cut Nya’ Dien dan lain-lain. Mereka berjuang mereaksi
kondisi perempuan dilingkungannya. Perlu difahami bila model gerakan Dewi
sartika dan Kartini leih ke pendidikannya dan itu pun baru upaya melek huruf
dan mempersiapkan perempuan sebagai calon ibu yang terampil, karena baru
sebatas itulah yang memungkinkan untuk dilakukan di masa itu. Sementara Cut
Nya’Dien yang hiup di lingkungan yang tidak sepatriakhi jawa, telah menunjukan
kesetaraan fisik tanpa batas gender.
Di
masa kemerdekaan dan masa Orde Lama, Gerakan terbilang Cukup Dinamis dan
memiliki begaining cukup tinggi. Dan kondisi semacam ini mulai tumbang sejak
orde baru berkuasa. Bahkan mungkin perlu dipertanyakan adakah gerakan perempuan
dimasa rezim orde baru?. Yang mana apa bila menggunakan definisi tradisional
dimana gerakan perempuan diharuskan berbasis massa, maka sulit dikatakan ada
gerakan perempuan ketika itu. Apalagi definisi tradisional ini dikaitkan dengan
batasan Alvarez memandang gerakan perempuan sebagai gerakan sosial dan politik
sebagai sebuah gerakan sosial dan politik dengan anggota sebagian besar
perempuan yang memperjuangkan keadilan gender. Dan Alvarez tidak mengikutkan
organisasi perempuan milik pemerintahan atau organisasi milik parpol serta
organisasi perempuan dibawah payung organisasi lain didalam definisinya.
Namun
definisi baru gerakan perempuan tidak seketat ini, sehingga dapat disimpulkan
dimasa Orba pun telah muncul gerakan perempuan. Salah satu buktinya adalah
munculnya diskursus seputar penggunaan istilah perempuan untuk menggantikan
istilah wanita.
Gerakan
perempuan di masa rejim otoriter Orba muncul sebagai hasil dari interaksi
antara faktor-faktor politik makro dan mikro. Faktor-faktor politik makro
berhubungan dengan politik gender orba dan proses demokratisasi yang semakin
menguat di akhir tahun 80-an. Sedangkan faktor politik mikro berkaitan dengan
wacana tentang perempuan yang mengkerangkakan perspektif gerakan perempuan masa
pemerintahan Orba. Wacana-wacana ini termasuk pendekatan Women in Devolopment
(WID) yang telah mendominasi politik gender Orba sejak tahun 70-an, juga wacana
femnisme yang dikenal oleh kalangan terbatas (kampus / akademinis) dan ornop[2].
2. Masa
Orde Baru
Naiknya Soeharto sebagai Presiden RI
menggantikan Soekarno membawa perubahan pada semua aspek kehidupan di
Indonesia, meskipun perubahan tersebut tidak mengarah kepada yang lebih baik.
Dalam dua tahun sesudah berhasil menghancurkan usaha kudeta, Jendral Soeharto
menegakkan kekuasaan militer sepenuhnya dan ia sendiri tampil sebagai presiden.
Oleh karena itu, sebagaimana
layaknya negara-negara berkembang Indonesia di bawah rezim Orde Baru memiliki
karakter otoriter yang tersentralisasi dari militer dan tidak
diikutsertakannnya partisipasi efektif partai-partai politik dalam proses
pembuatan keputusan.
Langkah
pertama yang dilakukan oleh rezim Orde Baru untuk “memgembalikan keamanan dan
ketertiban” nasional, pemerintah pada tanggal 12 Maret 1966, menyatakan bahwa
PKI bersama-sama dengan organisasi yang berifiliasi dengan partai tersebut
merupakan organisasi terlarang. Ini merupakan tonggak awal dari pembatasan yang
dilakukan oleh rezim Orde Baru termasuk di dalamnya termasuk organisasi
perempuan. Setelah unsur-unsur kiri dalam masyarakat telah disingkirkan,
menurut Weiringa, rezim Orde Baru mulai mengarahkan pada penghapusan kekuatan
tengah seperti liberalisme; dan lebih jauh sebagaimana diungkapkan oleh Anita
penghancuran gerakan kiri telah menghancurkan gerakan perempuan. Oleh karena
itu, penegakan terhaap aktivitas organisasi perempuan telah dimulai. Orgnisasi
perempuan sudah terkooptasi sedemikian rupa sehingga garis-garis kebijakannya
tidak dapat dilepaskan dari peran pemerintah[3].
Pada periode akhir abad 20 jumlah
organisasi perempuan semakin banyak dengan bentuk tujuan yang beragam. Fokus
kegiatan mereka tidak hanya perbaikan kedudukan wanita dan hukum, tetapi juga
mengusahakan agar semakin banyak wanita menempati kedudukan sebagai pengambil
keputusan.
Secara umum organisasi-organisasi
tersebut ada yang bergerak dibidang umum, agama, profesi, etnik dan
penyatuan istri pegawai pemerintahan dann sebagainya. Akan tetapi dilihat dari
independensinya, organisasi perempuan pada masa Orde Baru dapat dibedakan
menjadi dua bentuk. Pertama, organisasi independen, dan kedua organisasi
bentukan pemerintah.
a.
Organisasi
Perempuan Independen
Jika kita
melihat kembali kebelakang, seperti telah disampaikan sebelumnya , organisasi
pada masa penjajahan sampai masa Orde Lama, selain memiliki kuantitas
yang baik , secara kualitatif juga dapat diakui keungulannya. Pada masa Orde
Baru, organisasi dengan karateristik seperti ini dapat dihitung jari.
Organisasi tersebut misalnya Aisiyh, Wanita Katolik, PERWARI, dan KAWI.
Organisasi- organisasi ini dalam melaksanakan programnya tidak boleh menyimpang
dari garis-garis yang telah dijabarkan oleh Kantor Mentri Urusan Wanita,
Departemen Sosial, dan Departemen Dalam Negeri.
b.
Organisasi
Bentukan Pemerintah
Organisasi
perempuan dengan ketegori ini atau setidaknya berafilisi pada profesi suminya,
pada dasarnya ada sejak Orde Lama. Kita mengenal organisasi yang bernama Persit
(persatuan Isrti tentara) dan PIA (Persatuan Istri Angkatan Udara). Organisasi
istri-istri anggota angkatan bersenjata ini bertujuan membantu suami mereka
dalam menggelorakan kampanye nasional Pembebasan Irian Barat dan Ganyang
Malaysia. Sistem keanggotaan pada masa ini bersifat sukarela dan
kegiatannya terbatas. Pada masa Orde Baru struktur organisasi seperti ini
diubah oleh pemerintah Orde Baru. Belakangan diputuskan bahwa istri para
pejabat harus menjadi anggota organisasi ini yang iurannya dipotong dari gaji
suami. Keanggotaan seorang istri pejabat dalam organisasi seperti ini
diwajibkan.
Perubahan terakhir terjadi pada
pertengahan dasawarsa 70-an. Darma Wanita sebagai organisasi istri pegawai
negeri baik sipil maupun miiter segala sesuatunya ditentukan oleh pemerintah.
Berbeda dengan organisasi perempuan pada akhir dasawarsa 1950-anyang
kepemimpinannya ditentukan oleh anggota, pada masa orde baru pemimpin
organisasi tidak lagi berdasarkan pemilikan, melainkan hars mengikuti pola
hirarki yang sama dengan hirarki pemerintahan. Istri kepala kantor dengan sendirinya
menjadi ketua Dharma Wanita dikantor bersngkutan. Jika suami dipindahkan atau
naik pangkat maka isrtipun mengikutinya, yaitu masuk dalam organisasi istri
kantor baru sang suami. Artinya jika suami dipindahkan dengan jabatan
tertimggidi kantor barunya, otomatis istrinya menggantikan ketua Dharma Wanita
sebelumnya. Organisasi semacam ini bukan berdasarkan pada prestasi dan
kecakapan perempuan itu sendiri melainkan mengikuti prestasi suaminya.
Dari segi kegiatan, organisasi
semacam ini tidak berdasarkan pada kepentingan anggota, melainkan lebih banyak
berhubungan dengan jabatan suami. Kegiatan seperti ini berlaku disemua kamtir
pemerintahan di seluruh indonesia. Semua melakukan jenis kegiatan yang sama
sesuai dengan contoh yang diberikan oleh kantor pusat. Setiap departemen
pemerintah memiliki Dharma Wanita sendiriyang dinamakan sesuai dengan
departemen bersangkutan.
Kegiatan Dharma Wanita secara
keseluruhan diimplementasikan dalam bentuk PKK (Pendidikan Kesejahteran
Keluarga). Istilah ini pertama kali digunakan dalam seminar Home Economis di
Bogor pada tanggal 9-14 September 1957. Maka, sesuai dengan karateristik Dharma
Wanita, kegiatan PKK ini, selain yang telah disampaikan atas adalah ikut serta
dalam program keluarga berencana.
Secara struktural, PKK berada di
bawah pengawasan Mentri Dalam Negeri selaku pembina PKK pusat. Di tingkat desa,
PKK merupakan salahsatu unut kegiatan yang secara struktural berada di bawah
Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD).
Sebagai unit kegiatan yang dibentuk
oleh pemerintah, PKK tidak hanya berfungsi sebagai sebagai sarana pendidikan
perempuan, tetpi juga digunakan sebagai salah satu alat penting untuk
mengumpulkan suara bagi GOLKAR dalam pemilihan umum. Keberadaan PKK dalam
pemerintahan Orde Baru adalah salah satu manifestasi politik gender. Adres
Ahlin, sebagaimana dikutip Anita (Jurnal,10) berpendapat bahwa selain dominasi
negara atas masyarakat sipilnstruktur kelas, pembelaan atas dasar etnis dan
agama, srta struktur ekonomi, dan politik global, hubungan jender jga mnjadi
faktor pendukung lenggangnya kekuasaan Orde Baru.
Untuk melihat identitas gerakan
perempuan pada masa Orde Baru Arini menyatakan bahwa gerkan perempuanyang
sebelumnya telah berkembangbaik, baik dari segi organisasidan jumlahnya
cenderung kehilangan peran dan signifikansinyadalam peergulatan menentukan arah
transpormasi yang sdang berlangsung dalam masyarakat.hal ini menurut Arini
disebagkan oleh dua faktor. Pertama yaitu kondisi politik masa Orde Baru
yang cenderung menghiilangkan kritis dan inovatif mereka, dan Kedua
adalah disebkan oleh faktor internal gerakan perempuan sendiri yang mengalami
masalah.
Masalah ini
menurutnya disebabkan oleh kurangnya kemampuan dan kesungguhanuntuk mmelakukan
analisis sosial agar dapat memahami konteks serta permasalahannya[4]
B. Peran
Gerakan Permpuan Muslim Dalam Memperjuangkan Kesetaraan Gender Dalam Masa
Revormasi
Pembangunan nasiaonal selama tiga
dasawarsa terakhir, dalam bentuk modernisasi. Bila sistem pemerintahan yang
semakin demokratis dianggap paling kondusif bagi pemberdayaan perempuan, maka
di era reformasi ini semestinya pemberdayaan perempuan di Indonesia semakin
menemukan bentuknya. Bila ukuran telah berdayanya perempuan di Indonesia
dilihat dari kuantitas peran di sejumlah jabatan strategis, baik di eksekutif,
legislatif maupun yudikatif, jsutru ada penurunan di banidng masa-masa akhir
rejim orba. Namun, secara kualitatif, peran perempuan itu semakin
diperhitungkan juga di pos-pos strategis, seperti yang tampak pada komposisi
kabinet kita sekarang. Ini dapat digunakan untuk menjustifikasi, bahwa mungkin
saja kualitas perempuan Indonesia semakin terperbaiki.
Hanya saja
harus tetap diakui bahwa angka-angka peranan perempuan di sektor strategis
tersebut tidak secara otomatis menggambarkan kondisi perempuan di seluruh tanah
air. Bukti nyata adalah angka kekerasan terhadap perempuan masih sangat tinggi.
Bila pada jaman lampau kekerasan masih berbasis kepatuhan dan dominasi oleh
pihak yang lebih berkuasa dalam struktur negara dan budaya (termasuk dalam
rumah tangga), maka kini diperlengkap dengan basis industrialisasi yang
mensuport perempuan menjadi semacam komoditas[5].
C. Agenda
Gerakan Perempuan Muslim Kedepan
Pencapaian kaum perempuan Indonesia
dewasa ini diberbagai bidang tak lepas dari peran Kartini selama hidupnya.
Berbagai upaya untuk merevitalisasi cita-cita dan semangat Kartini dalam
memajukan kaum perempuan Indonesia – Dharma Wanita Persatuan Pusat bekerja sama
dengan United Nations millenium menyelenggarakan serangkaian acara untuk
memperingati Hari Kartini, 21 April mendatang. Ketua umum PP Salimah Nurul
Hidayati S.S M.BA menghadiri pertemuan pada Jumat, 12 maret 2010 di
Gedung Dharma Wanita Persatuan Pusat dalam rangka persiapan Hari Kartini 2010.
Thema yang diusung peringatan
Hari Kartini adalah ‘Perempuan Menatap ke Depan”. “Kami harapkan tidak bersifat
seremonial belaka, tetapi merupakan momentum bagi upaya – upaya pengembangan
program – program kerja nyata yang berkesinambungan bagi pencapaian MDGs di
Indonesia,” kata Nila F.Moeloek yang didampingi Niniek L. Karim dan Dewi Motik
. Pelaksaaan nya akan merupakan suatu kegiatan kolaboratif antar semua elemen
masyarakat, khususnya perempuan, dalam mendukung upaya-upaya tercapainya suatu
masyarakat yang berpengetahuan, independen dan sejahtera. Salimah menjadi salah
satu ormas yang turut serta.
Adapun tujuan dari rangkaian
kegiatan ini adalah:
1.
Memanfaatkan
momentum Hari Kartini sebagai apresiasi kepada perempuan di masa kini
2.
Meningkatkan
kesadaran tentang pentingnya peran perempuan dalam mencapai tujuan-tujuan MDGs
Secara khusus Nila MF Moeloek
menyatakan bahwa banyak kelompok perempuan yang telah berbuat di tengah
masyarakat, menjadi motivator bagi kaum perempuan di sekitarnya, beliau pun
mengakui langkah Salimah yang dikatakan banyak memberikan edukasi di tengah kaum
perempuan khususnya di kalangan majelis taklim. Dalam kesempatan tersebut Nurul
Hidayati menyatakan Salimah siap untuk mensukseskan gerakan memperingati Hari
Kartini dengan terlibat dalam gerakan bersama Perempuan Menatap Masa Depan.
Semua kegatan para pengurus Salimah di seluruh Indonesia di
majelis taklim maupun di kelompok-kelompok pemberdayaan ekonomi
binaan Salimah akan diarahkan khusus untuk mensosalisasikan
issue-isue terkait pemberdayaaan perempuan, pengokohan keluarga dan
perlindungan anak dalam kerangka mensukseskan pencapaian MDGs.
Salimah tengah berpartisipasi dalam aktivitas tersebut yang diberi
istilah oleh panitya sebagai “street class” atau kelas terbuka
yang diselenggarakan secara mandiri oleh masyarakat dengan minimum peserta
sekitar sepuluh orang. Salimah telah sangat akrab dengan
kegiatan-kegiatan memotivasi kaum perempuan dalam berbagai forum seperti
majelis taklim yang dihadiri oleh sekitar tiga puluh sampai seratus orang kaum
ibu.
Sebagian besar pengurus Salimah
adalah para motivator atau yang dikenal dengan istilah Ustadzah. Salmah
pun sering melakukan pelatihan-pelatihan bagi tokoh-tokoh majelis taklim
dalam mensosialisasikan issue-isue kontemporer terkat pemberdayaan
perempuan, pengokohan keluarga dan perlindungan anak. Sehingga di forum
majelis taklm yang begitu akrab dengan kaum perempuan Indonesia dapat menjadi
sarana pembelajaran semua hal yang dibutuhkan kaum perempuan.
Pimpinan Pusat Salimah menyerukan
kepada seluruh pengurus Salimah dan Para Ustazah di seluruh Indonesia untuk
turut mensukseskan kelas-kelas terbuka dalam format majelis taklim untuk
mensosialsasikan pencapaian MDGs yang disajikan dalam ceramah-ceramah dan
pelatihan-pelatihan dengan pilihan tema sebagai berikut :
1.
Islam
memuliakan Perempuan
2.
Islam
menghargai dan melindungi anak-anak termasuk anak perempuan
3.
Islam
mengajarkan hidup teratur, terencana,produktif dan hemat / kecerdasan
financial
4.
Rosululloh
mengajarkan jiwa wirausaha
5.
Pentingnya
kaum ibu memilki ketrampilan-ketrampilan yang menghasilkan (dan prakteknya
seperti pelajaran membuat kue, handy craft, dll)
6.
Islam
mengajarkan kebersihan dan kesehatan
7.
Menjaga
kehamilan dan masa penyusuan dengan sehat
8.
Pentingnya
menyusui bayi selama dua tahun sesuai arahan Al Qur’an
9.
Islam agama
yang ramah lingkungan ( Dalil-dalil syar’I terkait penjagaan lingkungan)
10.
Kaum
Ibu dengan Pola hidup Ramah lingkungan (disertai praktek mengelola
sampah)
11.
Pentingnya
Tanaman Obat Keluarga (disertai praktek menanam dan mengolah herba)
12.
Pentingnya
Makanan Sehat dan pola Hidup Sehat
13.
Pendidikan
Anak dalam Islam
14.
Pentingnya
Pola Asuh yang baik untuk masa depan anak
15.
Islam
memuliakan orang yang belajar dan mengajar Ilmu
16.
Pentingnya
Membaca dalam meningkatkan kwalitas Kehidupan
17.
Nasehat
Nabi agar umat Islam Belajar Seumur Hidup
18.
Pencegahan
penyalahgunaan Narkoba oleh orangtua
19.
Ancaman
Narkoba bagi generasi muda Indonesia, fakta dan data.
20.
Berbagai
kegiatan / ketrampilan yang menunjang.
Insya Alloh, seluruh pengurus di
Pimpinan pusat maupun Pimpinan wilayah di 30 provinsi serta Pimpinan Daerah di
289 kota kabupaten serta pimpinan cabang di 4… kecamatan akan berpartisipasi
dalam gerakan ” Perempuan Menatap Ke Depan” dengan program Street class atau
kelas terbuka selama bulan April 2010 sebanyak kurang lebih tiga ribu
kelas di seluruh Indonesia.
Adapun puncak dari peringatan hari
Kartini yang dilakukan Salimah di tingkat pusat dilakukan pada tgl 29 April
2010 dengan penuh harap dapat dihadiri oleh Prof. Nina Moeloek .
Serta beberapa event d tingkat provinsi seperti yang akan dilakukan di Lampung
tgl 16, 17 dan 18 April 2010 dengan titik tekan pada Permasalahan
Penyelamatan Lingkungan[6].
Analisis
terhadap sejarah gerakan perempuan Indonesia, memberikan pelajaran, kuatnya
gerakan perempuan karena jelasnya common enemy, pada masa itu. Semangat
melawan kolonialisme menjadi semangat gerakan sosial di Indonesia, dalam
melakukan kerja-kerja politik dan kulturalnya. Fakta semacam ini yang tidak
lagi dihadapi oleh gerakan perempuan ke-kini-an, di samping soal penghancuran
gerakan perempuan yang cukup panjang di masa Orde Baru, benar-benar menjadikan
gerakan perempuan seperti kehilangan arah. Dari proses refleksi ini setidaknya
muncul perumusan musuh bersama gerakan perempuan, dan juga musuh bersama
gerakan sosial di Indonesia, yaitu masih kuatnya budaya patriakhi, militerisme
dan neo-liberalisme.
Langkah ke Depan
Menghadapi musuh bersama yang
demikian, gerakan perempuan Indonesia ke depan, diharuskan menyusun strategi
gerakan yang tidak lagi terdikotomis dengan gerakan sosial lainnya, seperti
gerakan petani dan buruh. Hanya saja, bukan soal yang sederhana, dengan
mengembangkan peran gerakan perempuan ke dalam gerakan sosial seperti ini,
sebab beban gerakan perempuan memang menjadi kembali ganda, tidak saja
memperjuangkan ketertindasan perempuan yang terjadi juga di hampir setiap
gerakan sosial, tetapi juga memperjuangkan lebih luas pada penegakan demokrasi
dan keadilan. Sebagai ilustrasi sederhana, dalam dunia gerakan petani,
perempuan menghadapi diskriminasi yang luar biasa dalam area ini, sehingga
mereka harus melakukan perjuangan untuk memberikan perspektif jender dalam
gerakan petani. Di sisi yang lain, gerakan perempuan harus berperan strategis
dalam menguatkan gerakan petani di Indonesia.
Terlepas dari berbagai soal yang
bakal muncul dengan pilihan di atas, gerakan perempuan memang sudah saatnya
untuk masuk kembali dalam gerakan sosial yang lebih luas, sehingga keberadaannya
akan mampu secara substansial melakukan perubahan-perubahan sosial di
Indonesia. Sebuah perubahan yang mengandaikan adanya situasi demokratis yang
adil dan damai bagi semua, seperti yang juga disepakati bersama oleh peserta
refleksi. Hanya, tetapi muncul kesadaran, di sana tidak harus terjadi
keseragaman, sehingga gerakan perempuan tetap mengakui adanya pluralitas
gerakan ataupun kemajemukan pilihan strategi dan pendekatan. Strategi gerakan
perempuan yang demikian, merupakan upaya untuk membawa gerakan perempuan dalam
kerja-kerja yang lebih sistematis, menggeser kerja-kerja yang berbasis pada
pelayahan dan pendidikan (service and education) menuju pada bentuk
gerakan sosial yang lebih luas dan lebih bermakna bagi gerakan perubahan sosial
di Indonesia. Menghapuskan dikotomis antara
gerakan strategis dan gerakan pragmatis, seperti yang terkotakkan selama ini. Viva Gerakan Perempuan Indonesia[7].
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sejak
pada zaman orla yang kemudian beranjak pada zaman orba para kaum hawa yang mana mereka sangan mementingkan akan
gender telah berhasil untuk mensetarakan para kaum wanita yang mana telah
menjadikan diri mereka setara dengan laki laki dalam artian kedudukan soaial.
Yang
mana sejak zaman orla kaum wanita mulai bermunculan pada bidang politik yang
mana menghasilkan sebuah partai PPI (persaatuan putri indonesia). Ini
membuktikan bahwa kaum wanita pun sudah memilki sebuah perkembangan yang mana
ideologi akan wanita yang diangap terbelanag itu dihapuskan.
DAFTAR PUSTAKA
Pusat Studi Wanita (PSW), Pengantar
Kajian Gender, Jakarta, (PSW UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2002 Hal. 28
Hikmah Bafagih, “Sejarah Gerakan Perempuan” ,
artikel diakses pada 17 September 2013, dari http://sejarah-gerakan-perempuan.html
http://
Salimah Dalam Gerakan Nasional “Perempuan Menatap Ke
Depan” Tema Hari kartini 2010, artikel diakses pada 17 September
2013, dari – Salimah.htm
Mukhotib MD, “Refleksi
Gerakan Perempuan Indonesia”. artikel diakses pada 17 September 2013, dari,
arsip.htm
[1] Pusat Studi Wanita (PSW), Pengantar Kajian Gender, Jakarta,
(PSW UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2002 Hal. 28
[2]Hikmah Bafagih,
“Sejarah Gerakan Perempuan” , artikel diakses pada 17 September
2013, dari http://sejarah-gerakan-perempuan.html http://
[3] Pusat Studi Wanita (PSW), Pengantar Kajian Gender, Jakarta,
(PSW UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2002 Hal. 41
[4] Pusat Studi Wanita (PSW), Pengantar Kajian Gender, Jakarta,
(PSW UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2002 Hal. 46-50
[5] Hikmah Bafagih, “Sejarah Gerakan Perempuan” ,
artikel diakses pada 17 September 2013, dari http://sejarah-gerakan-perempuan.html
http://
[6] Salimah Dalam
Gerakan Nasional “Perempuan Menatap Ke Depan” Tema Hari kartini
2010, artikel diakses pada 17 September 2013, dari – Salimah.htm
[7] Mukhotib MD, “Refleksi
Gerakan Perempuan Indonesia”. artikel diakses pada 17 September 2013, dari,
arsip.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar